10.1 C
New York
01/12/2020
Aktual Kesra Nasional

Pendidikan yang Berkebudayaan Selamatkan Bangsa dari Ketidakpastian

JAKARTA (Pos Sore) — Aliansi Kebangsaan dan Suluh Nuswantara Bakti membedah buku berjudul “Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif”, Jumat (13/11/2020). Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka ini adalah karya kedua Yudi PhD, pakar Aliansi Kebangsaan, di tahun ini.

Buku setebal 452 halaman ini berisi tentang konsep transformasi pendidikan dengan menyumberkan pada konsep dan visi-misi pendidikan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara yakni sebagai proses belajar menjadi manusia seutuhnya untuk dipelajari dan dikembangkan dalam hidup.

Dalam bedah buku yang dimoderatori Bambang Pharma, ini menghadirkan cendikiawan muslim Prof. Azyumarzi Azra, MA, pakar pendidikan nasional Ki Dharmaningtyas, aktivis pendidikan Dhitta Putri Saravati, dan sang penulis sendiri sebagai narasumber.

Yudi Latif sendiri dikenal sebagai penulis yang konsisten berdiri pada historikal idealism atau dunia gagasan sebagai lawan dari historikal materialism. Yang banyak menggabungkan pemikiran-pemikiran Max Weber, Durkheim dan Robert K Merton — para sosiolog Amerika.

Dalam pengantarnya, Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, menyampaikan bedah buku ini sengaja diadakan dalam suasana peringatan “Hari Pahlawan”, untuk menghormati para pahlawan kita.

“Sekaligus refleksi perenungan terhadap nilai-nilai kepahlawanan para pejuang bangsa Indonesia dalam membebaskan diri dari penjajahan termasuk perjuangan pembebasan dari kebodohan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan nasional,” katanya.

Bangsa Indonesia memiliki sejumlah tokoh pendidikan yang sudah diakui sebagai pahlawan nasional, yaitu Ki Hajar Dewantara, R.A Kartini, Dewi Sartika, Kyai Hasyim Asy’ari, dan Kyai Ahmad Dahlan.

Pontjo menegaskan, pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan. Sebagai wahana penyemaian nilai-nilai dan pembangunan budaya, pendidikan nasional sudah seharusnya tetap berakar kuat pada bangsanya sendiri, yakni pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia.

Menurutnya, pendidikan yang tidak didasari oleh budaya bangsa akan menghasilkan generasi yang tercabut dari kebudayaan bangsanya sendiri. Pendidikan yang tidak menyatu dengan kebudayaan akan cenderung asing dan akan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.

“Hanya dengan pendidikan yang berakar pada budaya sendiri, bangsa ini akan selamat menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian,” tandasnya.

Keterkaitan pendidikan dengan kebudayaan juga semakin menemukan relevansinya, karena budaya merupakan faktor penentu keberhasilan maju atau mundurnya peradaban bangsa. Signifikansi budaya terhadap kemajuan sebuah bangsa dikemukakan oleh Yudi Latif dalam bukunya ini dengan sangat komprehensif.

Dari perspektif budaya, Indonesia adalah multikultur. Karena itu, pendidikan nasional yang harus dikembangkan adalah pendidikan yang berwawasan multikulturisme.

Dalam pandangannya, pertautan antara pendidikan dan multikultural merupakan solusi atas realitas budaya bangsa Indonesia yang beragam sebagai sebuah proses pengembangan seluruh potensi yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku dan agama.

Yudi Latif dalam pemaparannya menyampaikan, pendidikan adalah benih harapan. Buku ini menarik karena memunculkan beragam interpretasi dari berbagai kalangan sesuai dengan keinginannya masing-masing. Ada juga yang menyebut buku ini menjadi landasan kritik terhadap kebijakan dalam sistem pendidikan kita hari ini.

“Menariknya, Kemendikbud sendiri mensyukuri buku ini karena menjadi basis landasan bagi pendidikan merdeka yang sedang dikembangkan hari ini,” kata mantan Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila ini.

Buku ini, kata Latif, berisi semacam peta jalan besar yang mana nantinya akan ditulis buku-buku lainnya. Buku ini belum sampai kepada bagaimana sistem dan model pendidikan kreatif.

Penulis buku “Pendidikan yang Berkebudayaan” Yudi Latif, Ph.D

Sumbangan terbesarnya dalam buku ‘Pendidikan’ ini adalah susunan argumentasinya yang ‘kokoh’ tentang dasar kebudayaan bangsa. Dengan ini, Yudi ingin mengatakan kebudayaan nasional, di samping yang telah berkembang pada tingkat domestik, adalah hasil dialog dengan pihak luar —yang distrukturkan oleh corak geografis bersifat Nusantara dan dikelilingi lautan itu.

Dari sini pula, Yudi mendapat perspektif meletakkan pengertian ‘puncak-puncak kebudayaan daerah’ yang menjadi dasar ‘kebudayaan nasional’.

Dalam konteks inilah Yudi bicara tentang pendidikan. Baginya, secara konseptual dan ideal, pendidikan tidak bisa direduksi kepada usaha menciptakan kemampuan teknikal belaka.

Yudi ingin menyampaikan yang dibutuhkan dalam proses pendidikan adalah menciptakan metode pengajaran untuk mereproduksi manusia-manusia otonom dan kreatif. Seperti juga kebudayaan nasional yang mampu sintas (survive), arah utama pendidikan pada esensinya adalah menciptakan manusia-manusia kreatif dan otonom.

Dengan itu, betapa pun ia harus berhadapan dengan serangkaian disrupsi (akibat perkembangan teknologi) secara terus-menerus, bangsa ini akan selalu siap.

Menurut Yudi, buku tersebut berada di garis pemikiran Ki Hajar Dewantara, sehingga setiap sub bab judul ia terapkan mengenai pemikiran tersebut.

“Kita harus berangkat dari apa yang kita tidak punya, itulah kenapa saya menulis di garis pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dimulainya dari pemikiran Ki Hajar Dewantara baru kemudian menambah dari pemikiran-pemikiran lain,” kata mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ini.

Pakar pendidikan nasional Ki Dharmaningtyas, menilai buku tersebut menggunakan pendekatan konseptual dengan menggali filosofi Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD) yang menganalogikan kesatuan kebudayaan sebagai Tata Surya.

Dalam filosofinya, KHD menyampaikan kebudayaan harus terus bergerak, tidak boleh statis, ibarat planet-planet dalam tata surya. Jika ia berhenti bergerak, akan menimbulkan kehancuran planet dan tata surya itu sendiri. Selanjutnya walaupun berbeda-beda semua planet berpusat pada satu utama yang sama, yaitu matahari.

Menurutnya, Yudi Latif mengawal satu kontinum cita-cita dan nila-nilai kebijakan dari para penemu-penemu pejuang bangsa dengan melakukan inovasi-inovasi.

Yudi Latif, Ph.D adalah seorang aktivis dan cendikiawan muda. Pemikirannya dalam bidang keagamaan dan kenegaraan tersebar di berbagai media. (tety)

Related posts

Megawati Soekarnoputri: KAA dan GNB Tunjukkan Kekuatan Diplomasi Indonesia

Tety Polmasari

Gunakan Gadget Lebih dari 2 Jam Bisa Terkena Computer Vision Syndrome

Tety Polmasari

Mulyanto Prihatin Gatot Kaca Dimuseumkan Setelah Peringatan 25 Tahun Harteknas

Akhir Tanjung

Leave a Comment