8.9 C
New York
16/04/2021
Aktual Kesra Nasional

Giwo Rubianto: Makna Hari Ibu Momentum Kebangkitan Perempuan Indonesia, Bukan “Mother’s Day”

JAKARTA (Pos Sore) — Peringatan Hari Ibu ke-92, Selasa (22/12/2020), bertema “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju”, menandai Hari Ulang Tahun Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang juga ke-92. Kowani menjadi satu-satunya organisasi terbesar dan tertua di Indonesia, bahkan dunia. Dikatakan terbesar karena Kowani adalah organisasi federasi yang menaungi 97 organisasi perempuan dengan jumlah anggotanya mencapai 87 juta jiwa.

Sayangnya, makna Hari Ibu selama ini selalu diartikan sebagai “mother’s day” seperti yang diperingati negara-negara barat. Ditandai dengan ucapan Selamat Hari Ibu yang disertai dengan memberikan hadiah berupa setangkai bunga atau lainnya. Padahal, sejatinya Hari Ibu adalah peringatan untuk mengenang perjuangan kaum perempuan untuk melepaskan Indonesia dari penjajahan.

“Peringatan Hari Ibu, dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda, akan makna hari ibu sebagai hari kebangkitan, serta persatuan dan kesatuan perjuangan kaum perempuan, yang tidak terpisahkan dari kebangkitan dan perjuangan bangsa pada upaya kemerdekaan bangsa,” kata Ketua Umum Kowani, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, di Jakarta, Selasa (22/12/2020).

Giwo mengatakan, Hari Ibu di Indonesia memiliki perjalanan panjang. Dimulai dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928 yang melahirkan organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perkumpuan Perempoean Indonesia (PPPI).

Tujuannya adalah meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju, di samping tugasnya bahu membahu dengan kaum pria untuk membela negara dan bangsa. Pada saat itu sudah kesetaraan, karena perempuan turut memanggul senjata.

Perjuangan berlanjut pada diadakannya Kongres Perempoean Indonesia ke II di Jakarta. Pada 1935, pada Kongres tersebut di samping berhasil membentuk badan Kongres Perempoean Indonesia, juga menetapkan fungsi utama perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa yang berkewajiban menumbuhkan generasi baru yang lebih sadar akan kebangsaannya.

Pada 1938, Kongres Perempoean Indonesia ke III dilaksanakan di Bandung, dan dalam kongres tersebut lahir usulan agar peristiwa besar yang terjadi pada 22 Desember 1928 dijadikan tonggak sejarah bagi kesatuan pergerakan perempuan Indonesia dan dijadikan sebagai Hari Ibu. Tapi usulan tersebut baru dikukuhkan 21 tahun kemudian melalui Keputusan presiden Nomor 316 tahun 1959 yang menetapkan Hari Ibu tanggal 22 Desember sebagai Hari Nasional yang bukan Hari Libur.

Hari tersebut merupakan pengakuan dan penghargaan atas jasa-jasa perempuan bukan hanya sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu, isteri maupun warga negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa serta sebagai pejuang, dalam merebut, menegakkan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional.

Sampai sekarang semangat perjuangan tersebut masih dilaksanakan dengan semboyan “Merdeka Melaksanakan Dharma”. Semboyan yang mengandung arti bahwa persamaan hak, kewajiban dan kesempatan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki merupakan kemitrasejajaran yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bagi bangsa Indonesia.

“Perempuan bukan hanya penerima dan penikmat kemerdekaan tetapi memiliki peran penting dan peran yang diperhitungkan,” tegas Giwo Rubianto Wiyogo, dalam keterangan pers Peringatan Hari Ibu je-92, yang juga dihadiri Pengurus Pusat Kowani, Dewan Penasihat Kowani, dan Tim Ahli Kowani.

Karenanya, pada peringatan Hari Ibu ke-92, Kowani berharap Peringatan Hari Ibu ini menjadi momentum yang dapat dijadikan semangat, bukanlah hanya untuk sekedar diperingati atau dirayakan tetapi terwujud dalam gerak langkah yang nyata dengan bersinergi dalam mengemban amanat dan mandat para pejuang perempuan terdahulu untuk mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya sebagai Ibu Bangsa.

Perempuan merupakan garda terdepan, terutama dalam momentum pandemi yang melanda Indonesia. Sebagai Ibu bangsa kita bisa membangun kesadaran tentang ketahanan sebuah bangsa, ketahanan keluarga, dan ketahanan setiap anak bangsa atau ketahanan sumberdaya manusia.

Melalui ketahanan diri maka kita sebagai pribadi dapat membentuk ketahanan fisik, mental dan spiritual, juga ketahanan intelektual baik lahir maupun batin yang menjadi fondasi dalam membentuk ketahanan keluarga di mana peran perempuan sangat penting dan merupakan kunci ketahanan bangsa.

Karena itu, Giwo menyampaikan, peringatan Hari Ibu 2020 bertujuan untuk mengembalikan makna Hari Ibu pada makna pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang menjadi tonggak sejarah bagi kesatuan pergerakan perempuan di Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 Indonesia termasuk
perempuan menjadi anggota PBB yang mempunyai Komisi Kedudukan Perempuan
(Commission on the Status of Woman/CSW). Tidak saja belajar dari pengalaman perempuan negara lain tetapi juga memberikan pengalaman dalam masa pergerakan perjuangan perempuan Indonesia.

Sejak itu, berkat peran aktif perempuan Indonesia telah menghasilkan kesempatan
yang sama dengan pria sehingga mewujudkan kemitrasejajaran untuk pembangunan bangsa dengan tidak meninggalkan budaya Indonesia. Menandai kembali digaungkannya tugas perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa sebagaimana hasil Kongres Perempuan Indonesia kedua.

Tujuan dan implementasi Hari Ibu saat ini adalah perempuan tetap pada peran dan kodratnya yang terus mendukung mewujudkan pribadi perempuan Indonesia yang maju dan mandiri, berbudi pekerti luhur dalam mengisi kemerdekaan, menolong perempuan-perempuan yang tidak mampu.

“Selain itu, juga meningkatkan pendidikan perempuan melalui penguatan aksara budaya tulis, kecakapan hidup kewirausahaan perempuan, penghapusan perdagangan perempuan, penghapusan perkawinan anak dan masih banyak lagi masalah perempuan yang ada di masyarakat,” terang Giwo. (tety)

Related posts

3 Remaja Keroyok Ustadz Ditahan Polisi

Tety Polmasari

Jambore Peternakan Nasional 2017: Masyarakat Sehat dan Cerdas dengan Protein Hewani

Tety Polmasari

Pembebasan Lahan Tol Cijago Seksi II Tinggal Dua Persen

Tety Polmasari

Leave a Comment