11 C
New York
04/03/2021
Aktual Kesra Nasional

Raker dengan Yayasan-yayasan Kowani, Giwo Rubianto: Perlu Terobosan Baru agar Terus Berjalan dan Bertumbuh

JAKARTA (Pos Sore) — Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengadakan Rapat Kerja II secara online yang menghadirkan para pembina, pengawas, dan pengurus yayasan-yayasan Kowani, Jumat (22/1/2021). Raker ini membahas Laporan Kegiatan Tahun 2020 dan Program Kerja Anggaran Yayasan Tahun 2021. Raker ini dinilai penting untuk peningkatan kinerja Kowani.

Lima Yayasan Kowani hadir dalam Rapat Kerja Virtual yang diselenggarakan oleh Bidang Pengembangan Lembaga Kowani ini, yakni Yayasan Seri Derma Kowani (1929), Yayasan Hari Ibu Kowani (1953), Yayasan Kesejahteraan Anak dan Remaja (1953), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum dan Masalah Keluarga Kowani (1972), serta Yayasan Bina Daya Wanita Kowani (2007).

Ketua Umum Kowani yang juga Ketua Pembina Yayasan Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo, dalam sambutannya menyampaikan Rapat Kerja kali ini menjadi momentum yang tepat untuk menyamakan persepsi dan pola pikir demi capaian yang lebih baik ke depan. Tentu saja dengan berpijak pada pengalaman dan capaian tahun sebelumnya.

“Ini akan menjadi modal dasar yang kuat untuk meraih tujuan dan harapan sesuai rancangan masing-masing bidang dan bagian. Kelalui Raker ini juga seluruh bidang bisa saling berkolaborasi dan bersinergi serta saling mengisi dalam merancang rencana kegiatan demi capaian yang lebih baik dan lebih berkualitas lagi,” tuturnya.

Giwo menambahkan, melalui rapat kerja ini juga bisa memantapkan kesiapan perempuan dalam berbagai peran berbangsa dan bernegara serta terus meningkatkan dan mengembangkan kapasitas SDM perempuan sesuai dengan kompetensi, potensi dan akses yang dimiliki secara professional dan proporsional.

Karena itu, Giwo meminta para pembina, pengawas, dan pengurus untuk melaksanakan Hasil Kongres XXV tahun 2019. Karena hasil kongres ini adalah amanah yang harus dilaksanakan, jika terdapat hal hal yang belum dilaksanakan. Maka dari itu, program-program kerja harus sudah diagendakan dah diupayakan direalisasikan dan diselesaikan dengan tuntas.

Dalam laporan pertanggungjawabannya, lima yayasan di bawah kelola Kowani mengalami dampak yang cukup signifikan akibat pandemi Covid-19. Dampak yang paling dirasakan yaitu menurunnya jumlah pemasukan yayasan, kurang optimalnya program, sulitnya melaksanakan program kerja yang sudah disusun sebelumnya, juga sulitnya melakukan koordinasi antar pengurus dan lainnya.

Sebut saja Yayasan Hari Ibu (YHI) yang mengalami penurunan pendapatan yayasan dari sektor hunian penginapan yang dimiliki yayasan. Selama pandemi Covid-19, terjadi penurunan hunian sekitar 70 persen hingga 80 persen. “Imbasnya, yayasan menanggung rugi mencapai miliaran rupiah,” kata Ketua YHI Wiendu Nuryanti.

Begitu pula yang dialami Yayasan Kesejahteraan Anak dan Remaja (YKAR). Salah satu imbas yang paling dirasakan adalah menurunnya jumlah siswa TK Cempaka. “Kini kami hanya memiliki 17 siswa PAUD. Selain karena pandemi, di sekitar lokasi TK juga sangat jarang permukiman yang memiliki anak kecil,” jelas Yulia Himawati.

Yayasan Bina Daya Wanita yang mengelola panti werda juga mengeluhkan hal yang sama. Terdapat banyaknya penghuni panti yang menunda pembayaran iuran bulanan dengan alasan keluarga mengalami kesulitan keuangan. Jumlah donatur juga mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Tidak berbeda jauh dengan kondisi Yayasan Seri Derma (YSD) Kowani Yogyakarta yang meliputi layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui Tamam Pengasuhan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain, layanan asrama dan bantuan sosial Program Kesejahteraan Sosial Anak Balita, sebagaimana yang disampaikan Ketuanya, Murwantini Kusuma.

Menanggapi laporan yayasan-yayasan Kowani, Giwo bisa memaklumi jika hampir semua yayasan menghadapi masalah akibat pandemi Covid-19. Karena itu, ia meminta seluruh organ yayasan baik pembina, pengawas dan pengurus mencari solusi terbaik untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut. Tentu saja dengan tetap mengedepankan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Menurut Giwo, asset yang dimiliki masing-masing yayasan sangat besar. Akan sangat rugi jika dalam operasionalnya, yayasan tidak bisa mengembangkan asset, apalagi stagnan atau bahkan merugi. Aset-aset Kowani sebagian besar berada pada lokasi-lokasi strategis.

“Saya yakin bisa. Kita hanya perlu terobosan baru agar yayasan terus berjalan dan asset bisa tumbuh. Misalnya menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengoptimalkan program kerja yang sudah kita susun,” tambah Giwo.

Giwo memaklumi, kondisi Covid-19 memang telah menimbulkan dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Tetapi pandemi Covid-19 di sisi lain telah membuat pemanfaatan IT meningkat tajam. Inilah potensi dan peluang yang bisa digarap oleh masing-masing yayasan Kowani.

“Kuncinya kita harus berpikir out of the box, sebab pandemi memang kondisi yang berbeda sehingga perlu strategi yang berbeda pula sehingga kita jadi lebih produktif dalam memajukan Kowani pada khususnya, dan masyarakat pada umum,” ujarnya.

Giwo juga meminta dari berbagai kendala yang terdeteksi masing-masing yayasan menggelar rapat internal. Hasil rapat tersebut nantinya akan dibawa ke forum musyawarah kerja pada 2022. Di forum ini kegiatan yayasan-yayasan Kowani akan mempertanggungjawabkan kinerjanya. (tety)

Related posts

Peran dan Kontribusi Perempuan Tidak Dapat Dipungkiri Lagi

Tety Polmasari

Beasiswa Orange Knowledge Programme, Diplomasi Pendidikan Indonesia dan Belanda

Tety Polmasari

Gugatan Dikabulkan MA, Menkumham Harus Sahkan DPP PPP Kubu Djan Farid

Tety Polmasari

Leave a Comment