7.4 C
New York
04/03/2021
Aktual Kesra Nasional

Giwo Rubianto: Berdampak Buruk pada Anak, KOWANI Kecam Keras Iklan Aisha Wedding

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, mengecam keras iklan Aisha Wedding yang menganjurkan pernikahan di usia anak. Iklan ini jelas sangat bertentangan dengan UU No 16 Tahun 2019 sebagai Perubahan Atas UU Nomor1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Undang-Undang Perkawinan tersebut mengubah batas usia minimal menikah bagi laki-laki dan perempuan yaitu usia 19 tahun. Jadi, apa yang dipromosikan oleh wedding organizer tersebut sudah melakukan perbuatan melawan hukum.

“Kowani adalah federasi organisasi perempuan tertua, berdiri 22 Desember 1928. Saat ini, 98 organisasi perempuan tingkat nasional bergabung di dalamnya. Menyatakan dengan tegas bahwa Aisha wedding organizer melanggar UU no 16/2019 tentang perkawinan dan UU no 35 tentang perlindungan anak,” tandas Giwo Rubianto, Kamis (11/2/2021).

Menurutnya, perkawinan usia anak membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. Perkawinan anak juga berpengaruh terhadap proses reproduksi perempuan. Menikah di usia muda, berarti perempuan juga akan mengalami proses melahirkan pada usia yang masih dini pula.

Giwo melanjutkan, dari sisi kesehatan, organ reproduksi perempuan yang masih dalam usia anak belum siap untuk hamil dan melahirkan sehingga seringkali membahayakan ibu dan bayinya. Perkawinan anak juga secara langsung menyebabkan peningkatan kejadian keracunan kehamilan (preeklamsia), yang terjadi akibat plasenta tidak berkembang dengan baik karena gangguan pada pembuluh darah, persalinan lama dan persalinan dengan bantuan.

Bahaya lainnya, secara tidak langsung perkawinan anak akan menyebabkan peningkatan kejadian robekan pada dinding rahim ibu, penyangga rahim juga belum kuat untuk menyangga kehamilan, sehingga berisiko prolaps uteri (turunnya rahim ke liang vagina) abortus.

Implikasinya seperti perdarahan, bayi lahir prematur, kematian bayi dan ibu akibat komplikasi saat kehamilan dan melahirkan dibandingkan dengan perempuan dewasa. Makin muda usia ibu saat melahirkan, makin besar kemungkinannya untuk melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

“Berat badan lahir rendah akan berlanjut menjadi balita gizi kurang atau stunting atau bertubuh pendek, dan itu akan berlanjut ke usia anak sekolah dengan berbagai konsekuensinya,” katanya.

Melakukan hubungan seksual pada usia masih sangat muda meningkatkan risiko timbulnya kanker leher rahim dikemudian hari. Kanker leher rahim timbul di batas zona peralihan (transformasi) sel epitel gepeng dan epitel komumnar (squamo-columnar junction) di leher rahim ini.

Zona ini lebih mudah untuk mengalami perubahan ke arah tidak normal dan dapat tumbuh menjadi kanker jika ada infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Terlebih jika terdapat faktor risiko, antara lain umur, memiliki pasangan seksual lebih dari satu dan melakukan hubungan seksual pada usia dini

“Dilihat dari kacamata psikologis, maka terlalu dini menjadi istri dan ibu maka terlalu banyak yang harus dikorbankan, karena secara Kesehatan dan psikologis belum siap untuk menjadi istri dan ibu,” tegasnya.

Giwo menambahkan, berbagai dampak negatif dapat terjadi akibat keluarga dibangun dengan pasangan yang menikah pada usia anak. Antara lain, secara psikologis anak belum siap menjadi orang tua karena masih anak-anak dan menyebabkan rentan terjadinya pertengkaran, kekerasan dalam rumah tangga, hingga terjadinya perceraian.

Pernikahan dini juga berampak terhadap tumbuh kembang anak karena akan menyebabkan tidak terpenuhinya hak dasar anak seperti hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, hak sipil anak, hak kesehatan, hak pendidikan, dan hak sosial anak, yang secara umum menyebabkan terganggunya perencanaan masa depan anak.

Perkawinan anak juga bertentangan dengan UU No.23 tahun 2002. Dalam UU ini dinyatakan, setiap anak wajib mendapatkan perlindungan. Perlindungan anak adalah kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sebagaimana diamanatkan dalam UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.

UU ini dipertegas dengan terbitnya UU No.35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang mendefinisikan anak sebagai seseorang yang belum berusia 18 tahun. Terkait dengan perkawinan anak, UU No 35 tahun 2014 secara eksplisit menyebutkan kewajiban orang tua dalam mencegah terjadinya perkawinan anak

Terdapat hal lain berkaitan dengan perkawinan anak, seperti perlakuan yang kurang adil dari masyarakat khususnya terhadap remaja perempuan. Seringkali suatu kasus kehamilan pranikah yang menjadi korban adalah remaja perempuan dibandingkan dengan remaja laki-laki, yang masih diperbolehkan melanjutkan sekolah. (tety)

Related posts

Program Indonesia Pintar Sasar 20,3 Juta Anak Miskin

Tety Polmasari

Hetifah: AG 2018 Beri Impact Kunjungan Wisatawan ke Indonesia

Tety Polmasari

MenkopUKM Susun Konsep Arsitektur Pengembangan Koperasi Indonesia

Tety Polmasari

Leave a Comment