11 C
New York
04/03/2021
Aktual Ekonomi

Indonesia Perlu Gerakan Nasional Ekonomi Berbasis Pengetahuan Agar Maju dan Mandiri

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo berpandangan, teknologi telah menyebabkan terjadinya transisi perekonomian dunia. Yang semula berbasiskan pada sumber daya (resource based economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan (knowledge based economy).

Pengetahuan dan teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam pertumbuhan dan kemandirian ekonomi. Karenanya, kalau bangsa ini ingin maju, makmur, mandiri dan berdaulat dalam bidang ekonomi, serta berdaya saing global, maka ekonomi berbasis pengetahuan harus dijadikan suatu gerakan nasional.

“Indonesia, jangan sampai terlena dengan kekayaan sumber daya alamnya. Karena, gerakan ekonomi berbasis pengetahuan akan terus berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi,” kata Pontjo.

Ia menegaskan hal itu saat membuka Focus Group Discussion virtual bertajuk “Penguasaan dan Pengembangan Teknologi dalam Rangka Penguatan Sektor Energi dan Sumber Daya Alam”, Jumat (19/2/2021).

FGD ini diadakan oleh Aliansi Kebangsaan bekerjasama dengan Forum Rektor Indonesia, Akademi Ilmu Pengetahun Indonesia (AIPI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan Harian Kompas.

Hadir sebagai pembicara yaitu Rektor Telkom University Prof. Dr. Adiwijaya Archandra Tahar, yang juga anggota Forum Rektor Indonesia (FRI); Komisi Rekayasa AIPI Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja;
dan Ketua Kompartemen Industri Gas Bumi dan Perminyakan Bidang 3 Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) Ainun Rochani.

Diskusi yang dimoderatori Mayjen TNI (Pur) I Dewa Putu Rai, ini juga menghadirkan Ketua Forum Rektor Indonesia Prof. Arif Satria, Ketua Umum AIPI Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Ketua BPP HiIPMI Mardani H. Maming.

Menurutnya, dalam mewujudkan gerakan ekonomi berbasis pengetahuan tersebut, ada beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan bangsa ini.

Antara lain, yaitu kebijakan yang holistik, dan memperkuat sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi/lembaga riset, dan industri/dunia usaha, yang sering disebut sinergi “triple helix”.

Selain itu, pemberdayaan masyarakat, agar ruang-ruang pengembangan inovasi teknologi menjadi semakin luas dan merata; dan prioritas pengembangan pada beberapa sektor unggulan Indonesia, termasuk dalam penguatan sektor energi dan sumberdaya
alam.

“Seperti kita ketahui bersama, energi merupakan komoditas strategis dan vital. Sejarah membuktikan isu energi sangat erat kaitannya dengan ketahanan nasional
suatu negara. Sekitar 70 % konflik yang terjadi di dunia bersumber dari isu energi dan pangan,” ucapnya.

Karena itu, ketersediaan energi menjadi isu strategis global yang bisa menjadi sumber konflik bahkan perang antar negara. Maka kemandirian dan ketahanan energi sudah seharusnya menjadi salah satu kepentingan nasional utama Indonesia yang perlu terus
diperjuangkan.

Harus diakui hingga saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada energi
berbasis fosil (minyak bumi dan batu bara) sebagai sumber energi nasional. Utamanya untuk mencukupi kebutuhan di sektor transportasi, industri dan kelistrikan.

Eksploitasi secara terus menerus sumber energi fosil yang tidak dapat diperbaharui tersebut dapat menyebabkan sumber cadangan jenis energi ini suatu saat akan habis. Berbagai sumber menyatakan cadangan minyak bumi diperkirakan akan habis kurang dari 10 tahun, dan batu bara hanya tersedia sampai kurang dari 28 tahun.

Salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis
fosil dan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, adalah dengan
pemanfaatan sumber energi baru terbarukan (EBT) atau populer dengan sebutan energi hijau yaitu sumber energi yang dapat diperbaharui secara terus menerus sehingga keberadaannya di alam ini tidak akan habis.

Selain itu, sumber energi terbarukan adalah sumber energi ramah lingkungan yang dapat memberikan kontribusi terhadap isu perubahan iklim dan pemanasan global. Karena itu, pemanfaatan EBT sudah seharusnya menjadi prioritas nasional.

Tentu saja untuk mengurangi ketergantungan negara pada energi fosil, dan pada saatnya akan mendukung peningkatan stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan manfaat sosial dan lingkungan, serta memungkinkan Indonesia untuk memenuhi komitmen mitigasi perubahan iklim di bawah Paris Agreement.

Pemerintah sendiri telah menargetkan kontribusi EBT dalam bauran energi nasional mencapai 23% di tahun 2025 dan 31% pada 2050, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) berdasarkan Peraturan Presiden RI No. 22 Tahun 2017.

Untuk meningkatkan efisiensi dalam pengembangan EBT, selain meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan inovasi teknologi, seharusnya juga berbasis potensi lokal karena secara geografi dan sebaran potensi EBT Indonesia memang sangat beragam.

“Dengan demikian, maka setiap daerah dapat mengembangkan dan menggunakan energi terbarukan secara efektif dan efisien dengan jenis yang berbeda sesuai potensi setempat,” katanya.

Berkaca dari pengalaman negara-negara lain, lokomotif pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan terletak pada dunia usaha atau korporasi yang menjadi ujung dari pengembangan, penggunaan, dan pemasaran inovasi-teknologi.

“Mengingat pengembangan sektor energi skalanya sangat besar dan membutuhkan
investasi dalam jumlah besar pula, menurut hemat saya harus ada korporasi yang diberi tugas sebagai lead corporation yang menjadi motor dalam pengembangan sektor energi,” ujarnya.

Selain itu, perlu juga ada rekayasa sosial untuk menarik para pengusaha ikut ambil bagian dalam pengembangan sektor energi sehingga jumlah dan kulaitas pengusaha-nya meningkat. Harus diakui, jumlah pengusaha Indonesia di sektor energi masih sangat kecil.

“Saya meyakini bahwa inovasi teknologi dan gerakan ekonomi berbasis pengetahuan tidak mungkin akan berkembang tanpa dunia usaha,” katanya. (tety)

Related posts

Kemenkop – KKP Kerjasama Berdayakan Koperasi Perikanan

Tety Polmasari

Semalam, Dude Herlino Lamar Alyssa Soebandono

Tety Polmasari

4 Preman Palak Sopir Truk Dibekuk

Tety Polmasari

Leave a Comment