Mengolah Sampah Menjadi Bisnis Utama

SAMPAH membuat lingkungan menjadi kurang sehat dan menimbulkan bau kurang sedap yang sangat mengganggu. Tetapi sampah akan terus ada sepanjang sejarah manusia yang masih butuh makan, minum dan pakaian serta keperluan lain untuk menopang kehidupannya.

Lantas bagaimana cara mengatasi sampah yang terus mengganggu itu? Tidak semua orang memahami cara mengatasi masalah sampah dan bisa mendatangkan uang. Sebagian orang hanya menempuh solusi dengan membuang ke temoat sampah atau dibakar. Tetapi bagi Irene pemilik dan pendiri PT. Recycle Indonesia Utama Mandiri (Recyclindo) sampah yang bertebaran di seantero kota menjadi sumber penghasilan baginya dan karyawannya.

Perusahaan yang dipimpin Irene menyediakan solusi menciptakan lingkungan hidup yang bersih dengan sistem penerapan pengelolaan sampah berbasis zero waste management.

Apa yang membuat wanita kelahiran 29 April 1974 ini tertarik pada masalah sampah hingga mau nyemplung dan menjadikannya sebagai ladang bisnis? Berawal dari keprihatinannya melihat perilaku masyarakat yang cenderung tidak mempedulikan sampah.

Hal inilah kemudian diwujudkan dengan membeli sampah dari staf housekeeping hotel, berupa kertas, botol, dan kaleng aluminium, untuk kemudian dijual lagi. Diapun mengambil kursus kilat selama tiga hari zero waste management di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Dari kursus itu, wawasannya kian terbuka soal sampah.

Teori dan praktik dia lewati dalam tiga hari itu, berbagai bau mulai dari sampah hingga darah hewan dari rumah potong hewan yang dikunjungi membuatnya semakin tertantang untuk menjalani bisnis in.

Memulai usaha dengan mengumpul sampah kering, Irene mulai menapaki usahanya setahap demi setahap.Naik truk dengan membawa tas kresek ke mana-mana dia tempuh, sampai akhirnya ia punya langganan pemasok. Iapun mendapat kontrak untuk mengangkut sampah non-organik. Sisanya masih
dibuang ke tempat pembuangan milik Pemda.

Modal Rp100 jutaan dia keluarkan untuk memulai usahanya antara lain untuk membeli truk bekas dan menyewa lahan sebagai gudang. Mengolah sampah organik memerlukan lahan yang luas. Untuk itu dari lokasinya di kawasan Cinangka, Sawangan, Depok, Irene mulai mencari lahan baru di daerah Parung, Bogor.

Sejak akhir 2009, di tempat barunya itu ia mulai mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Dia merekrut konsultan untuk memastikan bahwa proses yang dilakukan ini sudah benar. Misalnya, kompoisi dan kelelembabannya. Kompos harus selalu basah, supaya cepat busuk.

Kini Irende sudah menjadi pewirausahawati yang berhasil mengatasi sampah menjadi rupiah dan mampu mempekerjakan beberapa karyawan. Bahkan dia masih sering membeli sampah non organik yang akan dibuang oleh masyarakat. Dengan kata lain, melalui sampah dia bisa menolong sesama. (hasyim husein)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!