Agar Jokowi Menang, PDI-P Harus Rangkul Kaum Profesional Jakarta

Minggu, 6 Apr 2014

JAKARTA (Pos Sore) — Pengamat Komunikasi Politik, Effendi Gazali, menilai elektabilitas Jokowi sebagai perseorangan lebih tinggi dibandingkan dengan sosoknya sebagai kader PDI Perjuangan.

“Elektabilitas Jokowi berdasarkan preferensi kaum profesional itu 48,67 persen. Tapi saat dia dikaitkan dengan partai, itu hanya setengahnya, yakni 24 persen. Artinya, masih banyak yang membedakan Jokowi sebagai capres dan partai pendukungnya,” katanya, dalam pemaparan hasil survei Populi Center terhadap 1.200 orang profesional Jakarta, yang dilakukan pada 20-28 Maret 2014.

Ia menilai, strategi untuk menjangkau kaum profesional dinilai penting dilakukan PDIP. Partai itu harus bisa ‘menjemput’ pemilih yang punya keterikatan rasional dan emosional dengan Jokowi agar mau memilih partai. “Belum lagi, jumlah pemilih banyak, ada pemilih pemula dan lainnya, kombinasi itu juga perlu diperhitungkan oleh partai,” katanya, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, kaum profesional Jakarta yaitu kaum yang bekerja atau ada profesi tertentu, punya komunitas dan ada kode etik profesi. Dari pemilih kaum profesional ini akan berpengaruh cukup kuat terhadap preferensi terhadap perubahan untuk Indonesia.

“Pemilu 2014 ini tahun perubahan, dan publik sudah cukup pintar menentukan siapa yang akan mereka pilih untuk perubahan yang lebih baik,” katanya.

Karenanya, posisi cawapres amat menentukan siapa yang akan memenangkan pertarungan dalam Pilpres nanti. “Kalau dulu SBY bisa maju dengan sandal jepit saja pasti menang, sekarang tidak bisa modal sandal jepit saja, harus ada handuk dan lain-lain,” selorohnya.

Menurutnya, hingga saat ini Jokowi belum memunculkan kapabilitasnya secara nasional sebagai pemimpin. Kondisi tersebut bisa memicu popularitas orang ‘lama’ yang lebih berpengalaman. “Makanya, nama Jusuf Kalla muncul, karena sosok seperti ini dirindukan, bisa menjawab dengan contoh dari masa lalu,” ulasnya.

Dari pandangan Effendi Gazali, elaktabilitas PDI Perjuangan memang berada di angka 20 persen, tidak berbeda jauh dibandingkan survei dari lembaga lainnya. “Kedatangan Jokowi ke daerah-daerah untuk menjadi jurkam kampanye Pilkada tidak bisa memenangkan calon dari PDI Perjuangan,” katanya.

Efendi memperkirakan, tim PDI Perjuangan telah mempunyai perkiraan semacam ini sehingga membawa nama Jokowi dan PDIP sebagai satu paket sehingga mampu meningkatkan suara pada pemilu legislatif. (tety)