Masjid London Kembali Diserang

LONDON — Untuk kedua kalinya dalam beberapa hari, sebuah masjid di timur London, Inggris telah diserang sebuah kelompok kanan jauh yang anti-Islam. Peristiwa itu terjadi ketika sekelompok orang menyerbu ke masjid dan menjatuhkan beberapa Injil dan selebaran ajaran agama sebagai bagian apa yang mereka sebut “patroli Kristen” , Senin  lalu.

Sumber dari kalangan masjid menyebutkan Britain First, kelompok sayap kanan jauh yang membenci Islam, telah mendatangi tempat itu untuk kedua kalinya ke Masjid London Timur. Para pelaku terdiri empat orang Mereka segera pergi setelah petugas patroli melihat mobil mereka yang melaju secara zig zag. Menurut saksi mata, aksi itu terjadi ketika empat pelaku masuk ke dalam masjid untuk membagikan selebaran ajaran Kristen dan Injil.

Dengan memakai jaket aktivis hijau partai mereka, para pelaku meninggalkan masjid dan kabur dengan mobil.
Britain First adalah sempalan dari partai British National yang sedang berkampanye untuk pemilu lokal bulan ini dan pemilihan tingkat Eropa. Menurut perwakilan kelompok itu, kunjungan ke masjid itu adalah bagian dari kampanye perang salib Kristen terhadap Islam.

Ini adalah serangan ketiga dengan sasaran masjid di London, Bradford dan Glasgow. Serangan ini membuat banyak orang muslim khawatir akan keselamatan mereka bila patroli Kristen terus berlanjut.

Sebelumnya kelompok ini juga melancarkan serangan dengan menggunakan tangga untuk memasang spanduk di jalan sebelum kabur. Pihak masjid sebenarnya tidak keberatan dengan keinginan nonmuslim masuk ke dalam masjid. Bahkan, bila orang luar sudah memberitahukan lebih dulu, pihak masjid akan mendampingi mereka untuk berkeliling masjid.

Sampai sejauh ini polisi belum menangkap pelakunya. Beberapa saksi mengaku melihat tiga pria dan seorang wanita berlari ke dalam masjid pada Senin 19 Mei lalu. Mereka menjatuhkan selebaran sebelum melarikan diri dengan kendaraan. Polisi menyita selebaran itu.

Serangan ini bukanlah yang pertama dan memicu kontroversi tentang kelompok itu. Baru-baru ini kelompok itu telah meresahkan warga karena menggunakan kata “Ingatlah akan Lee Rigby” sebagai slogan partai. Tindakan ini membuat Komisi Pemilu mengubah aturan tentang bagaimana parpol menggambarkan jati diri partai pada kertas suara.

Lyn Rigby, ibu dari Lee Rigby, merasa sangat sedih karena kelompok itu menggunakan nama anaknya untuk tujuan politik mereka. Keluarga ini bahkan tidak mendukung kebijakan kelompok itu.(onislam/meidia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!