Pameran Potret Kehidupan Para Mualaf di Belanda

AMSTERDAM  (Pos Sore) — Baru-baru ini Musium Amsterdam menggelar pameran tentang kehidupan orang Belanda yang menjadi mualaf. Pameran ini menyoroti peningkatan jumlah mualaf dan melihat sisi kehidupan spiritual serta aspek praktis dari perubahan ini.

“Sejak awal riset, saya tertarik untuk menemukan cara mengkomunikasikan hasil penelitian ke masyarakat lebih luas ketimbang kalangan akademisi saja,” ujar antropolog Vanessa Vroon-Najem, yang mengorganisir pameran.

“Saya sudah bekerja di Musium Amsterdam sejak 1999 dan waktu eksibisi tentang mualaf sudahlah tepat,” tambahnya.
Pameran ini digelar sejak 11 April hingga 27 Juli. Ide pameran ini berdasarkan pada pengalaman Vanessa Vroon-Najem, seorang peneliti bergelar Ph.D, yang masuk Islam pada 1996.

Pameran bertajuk ‘Converted. Becoming Muslim – being Muslim’ juga memberikan informasi lebih baik tentang meningkatnya agama Islam di Belanda dimana jumlah mualaf melebihi 15.000 jiwa.

Selain riset Vroon-Najem, eksibisi ini merupakan hasil kerjasama dengan fotografer Saskia Aukema yang memotret para mualaf dan kehidupan mereka sehari-hari.

Saat itu Aukema sedang mengerjakan sebuah proyek tentang orang-orang yang masuk Islam. “Proyek seperti ini dapat menunjukkan sisi normatif dan wajar tentang orang muslim di Belanda ketimbang radikal beragama dan kekerasan yang kita lihat di media massa. Banyak orang berpikir tentang istilah ‘kami’ melawan ‘mereka’ ketika mereka bicara tentang Islam. Para mualaf melintasi batasan imajiner itu dan menghubungkan keduanya,” tutur Aukema.

“Saya sedang mempersiapkan proyek itu selama lebih dari enam bulan ketika bertemu dengan Vroon-Najem, yang sudah melakukan riset selama beberapa tahun,” tambah Aukema.

Kerjasama mereka bukan hanya tentang pameran, tapi juga sebuah buku berjudul ‘Converted’ yang akan segera diterbitkan.
Pameran ini juga bertujuan untuk memperluas pengetahuan tentang perkembangan sosial, menangani prakonsep dan tantangan bagi pengunjung untuk menyingkirkan stereotip negatif tentang imej orang muslim dan mualaf.

Menurut Vroon-Najem, ada kebutuhan langsung untuk lebih melihat sisi kehidupan mendalam dari kehidupan para mualaf.
“Wanita muslim di Belanda kerap dianggap sebagai orang yang tertindas. Masyarakat menganggap wanita masuk Islam lantaran menikah, bukan keinginan sendiri. Orang muslim dan Islam menjadi pusat perdebatan publik di Belanda. Selama beberapa dekade, pra politisi merasa ragu tentang kemampuan orang muslim Belanda. Saya mencoba menantang keraguan dan stereotip ini melalui riset akademi dan partisipasi para mualaf untuk bercerita tentang kehidupan mereka sendiri,” papar Vroon-Najem.

Orang muslim mewakili satu juta dari 16 juta jiwa. Mereka kebanyakan dari keturunan Turki dan Maroko.(onislam/meidia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!