Merintis Masjid Jadi Pusat Pemberdayaan

MALANG (Pos Sore)– Selama hampir 40 tahun Prof Dr Haryono Suyono telah mengembangkan salah satu dari fungsi keluarga, yaitu kesehatan, keluaga berencana (KB) dan kemauan keluarga untuk membatasi anaknya. Haryono masih ingat ketika awal pencanangan program KB di Jawa Timur bersama almarhun K.H. Bisri Syamsuri, di Jawa Tengah dengan K.H Sahal Mahfudz, dan di Jawa Barat dengan K.H. Mutaqin. Upaya menggandeng tiga kyai panutan itu membuat program Keluarga Berencana berhasil dengan gegap gempita.

“Saya juga mendatangkan para ulama dari seluruh dunia ke Banten untuk mengambil oper program KB di Indonesia kekancah dunia. Sehingga pada tahun 1989 program KB kita dinyatakan oleh dunia berhasil,” kata Haryono yang juga Ketua Yayasan Damandiri saat mengawali sambutannya di hadapan peserta Observation Study Tour (OST) Posdaya Berbasis Masjid di Universitas Merdeka Malang, kemarin.

Presiden Soeharto , ketika itu, mendapat penghargaan dari PBB sekaligus diri Haryono mendapat kehormatan ke Kairo untuk bersilaturahmi dengan para ulama di Mesir dan para sesepuh Al Azhar. Presiden Mesir, Husni Mubarok menjadikan KB di Indonesia bagian dari kebanggaan dunia.

Keberhasilan program KB masa lalu sangat dipengaruhi oleh komitmen dan dukungan para Alim Ulama. Dan baru satu fungsi keluarga yang kita perkenalkan, yaitu fungsi kesehatan dan KB. Karena itu setelah 1994 Presiden Soeharto dan Haryono bertekad untuk membangun keluarga.

Setelah diselidiki fungsi keluarga bukan satu, tetapi 8 fungsi keluarga. Yaitu, fungsi keagamaan, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi kesehatan dan reproduksi, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi lingkungan. ‘’Karena itu kita sekarang serta merta mulai membangun Posdaya, juga mendekati Posdaya berbasis Masjid.’’

Haryono lebih jauh menjelaskan, berbeda dengan perguruan tinggi, Posdaya berbasis masjid tak saja memberikan ilmu, tapi melihat praktek dari keluarga itu. Ilmunya tidak tambah tidak apa-apa asalkan praktek dalam keagamaan, asal dia praktek pendidikan, asal dia praktek wirausaha.

Posdaya Masjid itu membuat sasarannya adalah keluarga yang strukturnya bertambah tua. Penduduk usia tua yang tahun 1970 jumlahnya hanya 2 juta sekarang ini hampir 25 juta. Bahkan nanti akan mencapai 50 juta. “Kita ingin Masjid itu menjadi pusat dari pengembangan gerakan yang masuk ke desa,” tegasnya lagi.

Jadi pengembangan Posdaya berbasis Masjid itu menjadikan Masjid contoh dari pengembangan pada tingkat pedesaan. Masjid menjadi contoh sekaligus ada kegiatannya di situ. Haryono kemudian menunjuk contoh, Masjid Kayen di Pacitan yang biasanya kosong sekarang sudah berisi bibit sayuran.

Selain itu di Masjid juga ada PAUD nya . Jadi proses di masjid itu menjadi pusat pemberdayaan, tetapi ukurannya bukan ukuran bupati tapi ukuran PBB, ukuran milenium development goals (MDGs) sehingga basis kita adalah internasional, kata Haryono.

Bila lima tahun terakhir ini semuanya sudah jadi maka kita akan mengundang ulama-ulama dari berbagai negara datang ke Indonesia untuk melihat, ini ukurannya. Secara nasional adalah berdasarkan Instruksi Presiden No 3 tahun 2010 yang menentukan prioritasnya, yaitu pengentasan kemiskinan, yang bukan bersifat derma (charity), tapi kerja keras rakyat yang diback up permodalan kalangan perbankan. (jun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!