Potensi Wisata Bahari Indonesia Belum Tersentuh Optimal

Kamis, 2 Okt 2014

JAKARTA (Pos Sore) –Dua pertiga luas Indonesia adalah lautan. Sayangnya, potensi sektor kelautan belum dimanfaatkan untuk menyejahterakan rakyatnya. Potensi wisata bahari tanah air yang begitu kaya, buktinya ‘belum tersentuh’.

“Selama ini pola pikir pemerintah dan masyarakat Indonesia masih lebih ke daratan di banding ke kelautan sehingga, potensi laut harus mulai dimaksimalkan dari sekarang,” tandas Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam diskusi Maritim bertema ‘Wisataq Bahari, Bisnis, dan Investasi Masa Kini’, di Wisma Antara, kemarin.

Karenanya, langkah awal untuk memaksimalkan potensi laut adalah reformasi mental. Kita harus mengubah mindset ‘bermental darat’ tadi mengingat Indonesia memiliki 17 ribu lebih pulau-pulau.
Kalau berkaca pada pengalaman nenek moyang kita yang seorang pelaut, pada zaman itu pelaut Indonesia berhasil membuat kapal dengan teknologi yang sederhana, bisa berlayar hingga ke Ghana di benua Afrika. Sementara di masa ini justru perkembangan di sektor kelautan tidak lebih baik.

Indonesia sendiri dinilai Sapta masih belum mengembangkan mental kelautan yang terindikasi dari baru munculnya Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang lalu berubah menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang lalu bermetamorfosis menjadi Kementerian Maritim di era pemerintahan Jokowi/JK ini.

Menurutnya, bisnis investasi terkait turisme dan rekreasi di kelautan Indonesia memiliki peluang yang luas, terutama karena segmen pasar internasionalnya sangat besar. Semua jenis wisata ada di negeri ini, mulai dari wisata selam, selancar, dan banyak lagi. Memang minat asing masih mendominasi wisata tersebut dibandingkan masyarakat Indonesia.

“Hitungan kasarnya tiga ribu saja dari 17 ribu pulau yang kita miliki potensinya dimaksimalkan, sudah berapa kekayaan Indonesia. Bila setiap pulau bisa menghasilkan ribuan dolar AS per tahun maka dapat menghasilkan hingga jutaan dolar per tahun,” ungkapnya. (tety)