Miliki Dirut Baru

Dewas Siap Tagih Janji Perhutani

Rabu, 22 Okt 2014
Mustoha Iskandar

JAKARTA (Pos Sore) — Perum Perhutani miliki Dirut baru. Mustoha Iskandar, Direktur Komersial Kayu ditunjuk menggantikan Bambang Sukmananto sebagai Dirut BUMN Kehutanan itu.

Sejumlah langkah diakui Mustoha siap dijalankan selain menjalankan kebijakan dirut sebelumnya. Tentunya ada hal utama yang menjadi prioritas untuk dijalankan Mustoha.

“Perubahan struktur organisasi tentu akan dilakukan. Culture migration harus dilakukan sekarang atau tidak sama sekali. Karena kini Perhutani sudah menjadi induk dari holding BUMN, maka budaya birokrasi akan diubah menjadi corporate culture,” kata Mustoha saat serah terima jabatan dan pisah sambut direksi Perhutani, kemarin.

Ia mengatakan change management wajib dilakukan diseluruh lini divisi usahanya.”Seharusnya perubahan tidak cukup di tingkat struktural saja tapi sampai perubahan kultural artinya, kultur dan pola pikir sumber daya manusia adalah kunci keberhasilan perubahan itu sendiri. Perhutani akan percepat transformasi itu,” jelas Mustoha.

Terkait hal itu, Dewan Pengawas Perhutani Hadi Daryanto meminta Mustoha dan jajarannya harus menuntaskan Rencana Kerja Perusahaan (RKP)nya.

“Kita akan tagih janji Pak Mustoha, lalu selesaikan pembuatan pabrik sagu di Papua, terus di Pemalang, dan juga tingkatkan tata kelola perseroan” jelas Hadi.

“Kita akan tagih janji Pak Mustoha, lalu selesaikan pembuatan pabrik sagu di Papua, terus di Pemalang, dan juga tingkatkan tata kelola perseroan.”

Ia mengatakan Mustoha harus merealisasikan janjinya membangun industri baru dengan buka kantor pemasaran di Sanghai dengan brand marknya Perhutani. Hadi mengharapkan hasilnya akan baik.

“Nanti, bagi hasilnya clear dengan calon investornya. Saya tahu dia sudah kita dorong itu. Karena sampai sekarang Perhutani punya industri tapi mati. Saya sebagai Dewas tanya kemana kayunya, ternyata di lapangan, administraturnya itu, GM-nya itu, kayu-kayu yang bagus dikasih ke perusahaan yang lain dan Perhutani sisanya. Pantas saja pabriknya itu mau dilikuidasi. Dan dia tidak memutus hubungan itu, yang tadi di Surabaya itu. Itu kan soal governance itu lemah Perhutani,” papar Hadi.

Terkait holding BUMN Kehutanan, Hadi mengharapkan anak usahanya bisa go public meski butuh waktu. “Perlu keluwesan sebagai holding. Jadi nanti anak usaha bisa investasi kemudian memilih program-program yang pro rakyat. Pogram penyediaan bahan baku untuk ekonomi kreatif Perhutani yang lahannya luas.”(fent)