Kunjungan Menko PMK dan Menteri Pertanian

Kebun Obat Tawangmangu, Tanaman Ajaib yang Sembuhkan Aneka Penyakit

Rabu, 1 Apr 2015

SOLO (Pos Sore) — Kebun obat Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan di kawasan Tawangmangu, Jawa Tengah, ibarat taman surga duniawi.

Selain enak dipandang, tanaman obat ini juga sangat ajaib. Bagaimana tidak, ribuan tanaman obat yang terdapat di kebun seluas 13 hektar itu, dapat mengobati berbagai penyakit. Mulai sakit ringan seperti batuk, hingga sakit berat semacam kanker.

Keajaiban tanaman obat asli Indonesia ini rupanya menarik perhatian Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, dan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Selasa (31/3), kedua menteri Kabinet Kerja ini berkesempatan menyusuri kebun yang berada di ketinggian 1700 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Kedua menteri juga ikut memanen tanaman obat dan menanam tananam obat langka. “Kunjungan kerja ini untuk lebih mendorong dan mengapresiasi upaya melestarikan dan membudayakan jamu yang dirintis B2P2TOOT Balitbangkes, Kementerian Kesehatan,” kata Menko PMK, Puan Maharani.

Kebun tanaman obat ini berada di Desa Tlogo Dlingo, Tawangmangu, Solo. Kala pagi, udaranya terasa sejuk dan dingin. Angin berhembus pelan, dinginnya pagi semakin terasa menusuk kulit.

Menteri Puan dan Menteri Amran pun menyusuri tanaman-tanaman obat itu sambil mendengarkan penjelasan dari pengelola B2P2TOOT mengenai manfaat tanaman obat itu.

Kawasan kebun tanaman obat ini dinamakan Reseach Station. Tanaman-tanaman obat ini menarik perhatian Menko PMK, Puan Maharani, dan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Keduanya tampak serius menyimak penjelasan dari pengelola kawasan ini. Kebun yang tak hanya indah dipandang ini, tapi juga bermanfaat bagi kesehatan.

Sambang colok, misalnya, dapat menjadi peluruh air seni. Atau kecubung gunung yang dipercaya dapat menjadi obat anti asma. Dian Maharani Silibium, tanaman obat berbunga cantik berkhasiat sebagai pelindung hati. Jadi ternyata, tak hanya kunyit, temulawak, kencur atau jahe saja tanaman obat yang selama ini kita kenal.

Tanaman lainnya rusmarin sebagai obat batuk, silibium untuk pelindung hati, parijoto untuk sariawan, cemara kipas sebagai penurun demam, pohon minyak kayu putih untuk penghangat badan, hingga piretrum yang buahnya digunakan sebagai obat nyamuk bakar.

Purwaceng rupanya menarik perhatian rombongan kedua menteri. Salah satu tanaman obat yang sudah dikenal ini dapat dipercaya dapat meningkatkan hormon testosteron pada pria, meningkatkan libido, dan meningkatkan stamina sehingga dikenal sebagai obat kuat tradisional.

Tanaman-tanaman obat yang lainnya juga berkhasiat untuk mencegah hingga mengobati penyakit kronik seperti kanker dan jantung. Di antaranya, ashitaba yang dipercaya ampuh mencegah pertumbuhan sel kanker. Daun tanaman asal Jepang ini mirip dengan seledri, lalu daun digitalis purpurea yang berkhasiat sebagai obat lemah jantung.

Cukup mudah mengenal sejumlah tanaman ini karena dilengkapi dengan papan nama tanaman dan khasiatnya.

Prof. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Balitbangkes Kemenkes, mengatakan, jamu sebagai tradisi dan budaya kesehatan tradisional sudah diakomodasi dalam sistem kesehatan nasional melalui UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan PP No. 103 tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional.

“Dalam rangka melestarikan dan membudayakan jamu ke dalam kehidupann sehari-hari dan peradaban negara bangsa, Kementerian kesehatan telah menyelenggarakan Program Saintifikasi Jamu sejak tahun 2010,” terangnya yang ikut mendampingi kedua menteri. (tety)