Mantan Kepala BNP2TKI Minta Presiden Bebaskan Mary Jane

Senin, 27 Apr 2015

JAKARTA (Pos Sore) — Mantan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh Jumhur Hidayat, membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

Kepada Presiden Jokowi, Jumhur meminta terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso, dibebaskan. Mary dinilai hanyalah korban perdagangan manusia yang dimanfaatkan sindikat narkoba.

Nasib Mary sesungguhnya tidak beda jauh dengan nasib para TKI di luar negeri, ungkap Jumhur. Ada puluhan TKI yang sebagian di antaranya juga korban perdagangan orang.

“Merujuk pada pemberitaan di media mengenai Mary Jane, saya merasa terpanggil untuk mengirimkan surat terbuka kepada Presiden,” kata Jumhur yang juga Koordinator Aliansi Rakyat Merdeka (ARM) Relawan Jokowi-JK, di Jakarta, Minggu (26/4).

Banyak kasus, mereka yang ditangkap oleh aparat kepolisian sebagai pengedar narkoba bukan atas kemauan mereka. Mereka hanya dijadikan alat saja. Karena keluguannya juga dimanfaatkan sindikat narkoba internasional.

Sebagaimana diberitakan Mary Jane dijatuhi vonis mati oleh Hakim Pengadilan Negeri Sleman, karena tertangkap tangan membawa narkoba jenis heroin seberat 2,62 kilogram. Dia sempat mengajukan PK, namun Mahkamah Agung menolaknya.

Mary sudah dipindahkan dari Yogyakarta ke Nusakambangan pada Jumat pagi, 24 April 2015. Dia menempati ruang isolasi di Lapas Besi Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Menurut penuturan pengacara Mary Jane, Agus Salim, kliennya dikenal sebagai warga miskin dengan dua anak yang ditinggal di negara asalnya. Ia pergi dari negaranya dengan tujuan awal Malaysia untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Namun, Mary Jane telah dibohongi dan dimanfaatkan oleh Kristina asal Malaysia. Saat itu, Mary yang dijanjikan akan bekerja sebagai buruh rumah tangga di Malaysia disuruh Kristina membawa satu koper yang diisi pakaian bekas ke Yogyakarta, Indonesia. Mary tak curiga koper itu berisi narkoba karena sebelum berangkat sempat diperiksa terlebih dahulu oleh Mary.

“Mery dibohongi oleh gembong narkoba asli asal Malaysia yang mengaku sebagai agen pencari kerja migran di Malaysia. Ia tak mengetahui kalau isi koper adalah narkoba. Mary disuruh ke Yogyakarta dengan alasan menunggu pekerjaan yang sebelumnya dijanjikan Kristina,” tuturnya.

Karenanya, Mary Jane diyakini tidak bersalah dan menjadi korban human trafficking oleh gembong pengedar narkoba. (Tety)