Pancasila, Ideologi Bangsa yang Sejalan dengan Alquran

Selasa, 16 Jun 2015

JAKARTA (Pos Sore) – Tak terasa Pancasila berusia 70 tahun. Falsafah bangsa Indonesia ini tetap tak goyah meski sempat berulangkali dipertanyakan mengapa Pancasila menjadi asas tunggal dalam berbangsa dan bernegara. Tidak sedikit yang menginginkan dasar negara Republik Indonesia itu diganti menyesuaikan mayoritas agama penduduk negeri ini.

Mengapa Pancasila tetap hidup di negeri berpenduduk 240 juta jiwa ini? Bisa jadi karena nilai-nilai yang dikandung dalam ajaran Pancasila sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran. Pancasila menjadi satu-satunya landasan yang mampu menerima semua aspirasi dan kepentingan masyarakat Indonesia.

Begitu persoalan yang mengemuka dalam Dialog Interaktif bertema ‘Refleksi 70 Tahun Lahirnya Pancasila Sebagai Filosofi (Gronslag) Berbangsa dan Bernegara’, di Jakarta, Selasa (16/6), yang diadakan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Pusat bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Politik Universitas Bung Karno (UBK).

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Abdul Ghofur, yang menjadi pembicara dalam dialog itu menilai Pancasila merupakan pengejewantahan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran.

Karenanya, selain menerjemahkan nilai-nilai Alquran, Pancasila juga mampu menyerap nilai-nilai dunia di samping nilai-nilai yang digali dari bumi nusantara sendiri.

“Karena itulah, Nadhlatul Ulama (NU) menerima Pancasila menjadi ideology bangsa, NU menjadi ormas Islam satu-satunya yang pertama kali menerima dengan bulat mutlak Pancasila. Penerimaan asas tunggal ini karena kesadaran mendalam akan nilai-nilai Pancasila sebagai perwujudan nilai-nilai di dalam Alquran serta kesadaran akan nilai-nilai kebangsaan,” kata intelektual muda NU ini.

PBNU sendiri bukan semata-mata singkatan dari Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama, melainkan juga dimaknai sebagai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

Ia tidak sependapat untuk menjadikan Islam dijadikan asas dalam suatu organisasi atau partai. Adalah suatu kekeliruan jika ada organisasi atau partai yang menjadikan Islam sebagai asas. Karena hal itu justru akan merendahkan Islam sendiri. Islam adalah agama ciptaan Allah, sedangkan organisasi ciptaan manusia. Islam jauh di atas asas.

Syaiful Arif, dosen Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nadhlatul Ulama (STAINU), mengatakan, Pancasila telah menegaskan suatu teologi republican. Yakni pendangan teologis yang menempatkan pengamalan nilai ketuhanan ke dalam politik republic. Inilah yang tidak dipahami oleh kalangan fundamentalis dan sekularis.

“Soekarno sendiri menegaskan, Pancasila bersumber dari ketuhanan yang berkebudayaan. Meskipun ide ini terevisi dalam siding PPKI menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, namun prinsip ketuhanan yang berkebudayaan tidak luntur, bahkan semakin kokoh. Karena kebudayaan yang dimaksud Soekarno terpatri dalam sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” tandasnya.

Dalam Pancasila, hakikat kebudayaan (humanisasi) terdapat pada sila kedua yang bersumber dari sila pertama dan diwujudkan melalui ketiga sila di bawahnya. Dengan demikian, kemanusiaan yang adil memuara pada keadilan sosial melalui demokrasi permusyawaratan.

Sedangkan keabadan kemanusiaanmerujuk pada perawatan kemajemukan melalui Persatuan Indonesia. Segenap nilai kebudayaan ini bersumber dari sila ketuhanan sehingga Pancasila mendanai ketuhanan yang berkebudayaan. (tety)