11.7 C
New York
11/05/2021
Aktual Gaya Hidup

Arswendo: Komikus Indonesia Harus Bangga dengan Karyanya

IMG-20150622-09344

JAKARTA (Pos Sore) – Perkembangan komik Indonesia kalah dengan komik-komik negara asing seperti manga dan batman. Penyebabnya, kata budayawan Indonesia Arswendo Atmowiloto, adalah komikus Indonesia yang masih belum bangga dengan karyanya sendiri.

“Kita punya komik-komik yang amat populer di dunia seperti kisah wayang Gareng dan Petruk., juga komik-komik yang berada direlief candi Borobudur,” kata Arswendo, di Institut Kesenian Jakarta, Senin (22/6).

Namun, ia menyayangkan popularitas komik asli Indonesia kini mulai tersisih oleh komik-komik asing. Generasi muda terutama remaja dan anak-anak sangat gandrung dengan komik negara lain bahkan tidak kenal komik Indonesia.

Memang, beberapa komik Indonesia sempat populer seperti Gundala. Tetapi begitu masuk ke industri film, riwayat komik tersebut harus berakhir.

Akibat kalah populer, banyak komikus Indonesia yang berhenti berkarya. Mereka memilih beralih ke bidang lain yang jauh menjanjikan secara materi dan penghargaan.

Karenanya, ia menyambut antusias perhelatan yang diadakan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) IKJ dengan membuat pameran arsip perjalanan komik dan kartun karya para desainer grafis lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bertajuk ’28BIKINI – 28 Tahun Bikin Komik-Kartun di Cikini’, di Galeri Cipta 3 Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 25 Juni – 4 Juli 2015.

Dalam kesempatan tersebut Arswendo menyerahkan 75 lembar koleksi komiknya yang berusia puluhan tahun untuk IKJ kepada Beng Rahadian, yang mewakili Akademi Samali.Salah satu koleksinya adalah komik strip Put-On karya Kho Wan Gie yang diterbitkan oleh Harian Sin Po pada 1929-an. Komik Put-On menandai awal perkembangan komik di Indonesia. Selain itu, Arswendo juga mengoleksi komik buatan Kamikazer di awal kariernya sebagai komikus.

Arswendo mengoleksinya sejak puluhan tahun lalu. “Saya punya beberapa komik strip Put-On dari yang terbit tahun 1929. Namanya baru Put-On di tahun 1930. Ada yang saya beli dan minta sama senimannya,” ungkapnya.

Pendiri Akademi Samali Beng Rahadian yang menerima koleksinya mengungkapkan selama ini kolektor komik hanya menyimpan karyanya dan menyembunyikan dari publik. “Tapi Mas Arswendo menyerahkannya kepada kami dan IKJ untuk pembelajaran dan penelitian. Biar publik juga tahu,” katanya.

Menurutnya, cara pelestarian komik tersebut, tidak hanya berhenti di lemari saja. Dengan begitu, generasi muda juga bisa mempelajarinya dan tidak tertinggal.

Penyerahan koleksi komik-komik koleksi Arswendo diapresiasi oleh Dekan Fakultas Seni Rupa (FSR) IKJ Citra Smara Dewi. “Selanjutnya jika diperlukan komik stripnya bisa kami teliti dan menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa dan ke publik. Rencananya mudah-mudahan akan dipamerkan ke masyarakat dalam waktu dekat,” katanya. (tety)

Related posts

Prihatin Kondisi Warga, Amin Sumbang Beras, Sembako di Jember Lumajang dan Surabaya

Akhir Tanjung

Kenalkan Hukum Sejak Dini, Kejagung Gelar Program Jaksa Masuk Sekolah

Tety Polmasari

Menko PMK: Minum Jamu Tubuh Pasti Lebih Sehat

Tety Polmasari

Leave a Comment