17.5 C
New York
13/05/2021
Aktual

Anak Sering Demam Disertai Kejang Berpotensi Epilepsi

JAKARTA (Pos Sore) — Demam disertai kejang sesuatu yang wajar terjadi pada anak-anak. Yang harus diperhatikan, jika anak terlalu sering kejang, maka anak tersebut menghadapi risiko epilepsi lebih tinggi di kemudian hari.

“Tidak selalu jadi epilepsi, tapi risikonya memang lebih tinggi jika anak sering mengalami kejang demam. Terutama pada anak di bawah usia 1 tahun,” tegas dr Irawati Hawari, SpS, dokter saraf saat acara media gathering bertajuk “Kejang…Apakah Selalu Epilepsi?” di RSU Bunda Jakarta, Jumat (26/6).

Ia menegaskan, kejang karena demam, wajar dialami anak pada usia 1-5 tahun. Durasinya berlangsung beberapa detik hingga 1 menit. Jika kejang berlangsung lebih lama, maka harus diwaspadai karena kejang selama 3-5 menit sudah bisa memicu kerusakan otak.

Sering tidaknya anak mengalami kejang karena demam sangat dipengaruhi oleh ambang atau toleransi terhadap pemicu kejang yakni demam. Beberapa anak sudah kejang pada suhu 38 derajat celcius, beberapa yang lain tidak pernah kejang meski mencapai 40 derajat celcius.

Namun jika dianggap terlalu sering mengalami kejang dan dicurigai mengidap epilepsi, maka sebaiknya anak diperiksakan ke dokter untuk menjalani tes EEG (electroencephalogram). Jika hasil EEG normal sekalipun, tidak bisa langsung disimpulkan bahwa anak tersebut tidak epilepsi.

“Jika EEG dilakukan di luar bangkitan (serangan kejang), hasilnya pasti normal. Maka saat EEG diberi stimulasi biar aktivitas otak saat kejang bisa terekam,” jelas dr Irawati yang merupakan dokter saraf RSU Bunda Jakarta ini.

Menurutnya, jika mendapat penanganan yang baik, anak dengan epilepsi bisa hidup sehat sampai dewasa. Penanganan dilakukan melalui pemberian Obat Anti Epilepsi (OAE), atau melalui operasi bedah dan pemasangan implan antikejang jika pemberian obat sudah tidak mempan.

Epilepsi merupakan suatu penyakit neurologi menahun yang dapat mengenai siapa saja tanpa batas usia dan jenis kelamin. Meskipun awal 1.900-an era kedokteran modern, epilepsi telah dimulai, masih ada saja masyarakat meyakini mitos yang ada sejak ribuan tahun lalu. Hal ini tentunya berpengaruh negatif terhadap pelayanan optimal bagi orang dengan epilepsi (ODE).

Rata-rata prevalensi epilepsi aktif 8,2 per 1.000 penduuduk, sedangkan angka insidensi mencapai 50 per 1.000 penduduk. Di Indonesia dari 237,6 juta pnduduknya diperkirakan jumlah penyandang epilepsi sekitar 1,1 sampai 8,8 juta, sedangkan insiden sekitar 50 sampai 70 kasus per 100.000 penduduk. (tety)

Related posts

Hanya 30 Menit, Kevin Julio Jalani Lasik Mata di KMN

Tety Polmasari

Realisasi Mendekati Target, Menkop: Bunga KUR Rendah Jadi Daya Tarik KUMKM

Tety Polmasari

Produksi Sidat Pelabuhanratu Melimpah, Slamet: Perlu Penanganan dan Bantuan Pemerintah

Akhir Tanjung

Leave a Comment