SMESCO Art Fest & Netizen Vaganza 2015

Agustinus Wibowo Bagikan Ilmu Menjadi ‘Travelling Writing’

Minggu, 27 Sep 2015

agustinus

MENUANGKAN perjalanan kita dalam bentuk tulisan? Mengapa tidak. Jangan biarkan travelling berkesan kita berlalu begitu saja hanya dalam penggalan foto demi foto, lalu dishare di media sosial.

“Menuliskan perjalanan adalah juga suatu perjalanan,” begitu kata Agustinus Wibowo, seorang penulis dan fotografer perjalanan kepada peserta workshop ‘Basic Travel Writing’ di gedung Smesco UKM/RumahKU (Rumahnya Koperasi dan UKM), Minggu (27/9).

Pria asal Jawa Timur itu sengaja diundang Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (LLP-KUKM) Kemenkop dan UKM pimpinan Ahmad Zabadi, untuk mengisi acara SMESCO Art Fest & Netizen Vaganza 2015 yang berlangsung pada 26-27 September 2915.

Kegiatan itu berisikan berbagai workshop, antara lain ‘Basic Travel Writing’. Mengapa workshop bertema ini diangkat? Karena ternyata, sebagaimana diutarakan Ahmad Zabadi, menuliskan travelling dalam sisi lain yang lebih unik seperti yang dilakoni Agustinus Wibowo, bisa menghasilkan uang.

Selain tulisan dapat dinikmati oleh diri sendiri, juga bisa dipublikasikan di media massa, yang tentunya akan mendapatkan honor penulisan. Dan, kalau beruntung, penerbit akan membukukan jurnal perjalanan tersebut. Karya ini pun akan mendatangkan pundi-pundi uang dan juga kepuasan batin.

Di hadapan para peserta workshop yang sebagian besar blogger, sarjana ilmu komputer di Universitas Tsinghua di Beijing, ini mengingatkan, kegiatan travelling jangan hanya terlepas pada sisi kumpulan foto yang diabadikan. Jangan sampai kesan saat menyusuri memori terlewatkan begitu saja. Apa yang terpampang di depan mata juga berlalu begitu saja.

Lalu mengapa menulis itu susah? Agustinus yang pernah menetap sebagai jurnalis foto di Afghanistan selama tiga tahun itu memberikan bocoran. “Karena sebelum menulis, kita buru-buru ingin menulis. Kita harus tahu apa yang mau kita tulis. Jangan semua yang ada di otak maunya ditulis. Temanya apa dulu,” kata pria bermata sipit itu.

Agar tulisan kita terstruktur dan menyambung, ada baiknya kita membuat kerangka tulisan terlebih dahulu. Agustinus yang spesialis ‘travelling writing’ ini mengatakan, semua penulis, sekalipun itu penulis terkenal, akan memulainya dengan ini. Kerangka tulisan akan memudahkan kita menulis.

Ketika ditanya salah seorang peserta, apakah ia akan langsung menulis saat melakukan perjalanan atau menunggu perjalanan itu selesai, Agustinus menjawab ia selalu membawa catatan dan pulpen.

IMG-20150927-00535

“Bukan untuk menulis dalam bentuk paragraf, tetapi berupa point-point unik dari apa yang kita lihat sehingga tulisan menjadi lebih detil. Kalau tidak begitu, detil-detil yang menarik itu lupa. Justeru dengan membuat point-point seperti itu akan memudahkan kita untuk menggambarkan apa yang akan kita tulis.”

Begitu papar Agustinus yang pada 2005 memulai petualangan perjalanan darat keliling Asia. Berangkat dari China melintasi negara-negara Asia Selatan dan Asia Tengah. Semua perjalanannya dilakukan dengan biaya sendiri, dan ketika kehabisan uang di jalan, ia akan berhenti di satu negara dan bekerja.

Lalu bagaimana agar tulisan kita bagus? Agustinus yang menjadi pionir dalam penulisan narasi perjalanan dengan gaya nonfiksi kreatif di Indonesia ini memberi tips. Pertama, berikan izin pada dirimu sendiri untuk menulis jelek. Sebagai penulis pemula jangan berharap langsung bisa mendapatkan tulisan yang bagus.

“Bisa dibilang 90% draf awal suatu tulisan adalah sampah. Justeru dengan kembali menulis ulang akan mendapatkan tulisan yang lebih baik. Penulis ternama sekalipun juga melalui proses seperti ini,” tambahnya.

Sosok Agustinus menjadi ‘idola’ bagi mereka yang memiliki hobi travelling. Para traveller ini kerap memburunya hanya sekedar untuk mencuri ilmunya. Ya, Agustinus yang menguasai berbagai bahasa asing – hikmah lain dalam perjalanannya, menjadi ‘guru’ bagi yang gemar melakukan perjalanan. (tety)

buku