7 C
New York
05/12/2020
Aktual

Indonesia Krisis Regenerasi Petani

JAKARTA (Pos Sore) — Penelitian tentang regenerasi petani di Indonesia dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui tim peneliti Program Unggulan, sub program Ketahanan Sosial, Ekonomi dan Budaya dari tahun 2015 hingga 2019.

Pada tahun pertama penelitian atau tahun ini, tim melakukan penelitian di tiga desa di wilayah eks Karesidenan Surakarta yakni Sragen, Klaten, dan Sukoharjo. Tim peneliti pada penelitian itu memfokuskan pada masalah regenerasi petani dalam hubungan antara modernisasi dengan konstruksi pemuda di pedesaaan melalui empat hal yaitu keluarga, sekolah, sawah, dan aktivitas non pertanian.

“Berdasarkan hasil pengamatan atau penelitian sementara, modernisasi yang dijalankan melalui keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas non-pertanian telah membentuk pemuda pedesaan sebagai sumber daya manusia yang bersifat modern,” kata YB Widodo, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, dalam diskusi publik ‘Srono Urip: Modernisasi dan Krisis Regenerasi Petani di Pedesaan’, di Jakarta, Jumat (2/10).

Menurutnya, pemuda pedesaan yang modern ini berpengaruh terhadap perilaku mobilitas penduduk usia muda di pedesaan melalui fenomena migrasi dari desa ke kota yang pada akhirnya berdampak ditinggalkannya pertanian skala kecil di pedesaan.

Dikatakannya, tim peneliti LIPI juga melihat modernisasi di pedesaan menjadi pendorong perubahan sosial terutama perubahan pandangan terhadap ‘aset’ sosial, ekonomi dan budaya menjadi ‘modal’ sosial, ekonomi dan budaya.

Contoh sederhananya adalah pemuda sebagai generasi penerus tidak serta-merta mewarisi ketrampilan pertanian dari orang-tua atau komunitas masyarakatnya karena modernisasi di bidang keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas non-pertanian justru mengasingkan mereka dari lingkungan tempat hidupnya.

Sementara itu, Gutomo Bayu Aji, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI lainnya menjelaskan, agar regenerasi petani berjalan dengan baik, hasil penelitian LIPI menunjukkan pemerintah bersama sektor swasta dan masyarakat sipil perlu menciptakan variasi lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan pemuda di pedesaan.

“Selain itu, perlu dilakukan peninjauan kurikulum pendidikan sekolah di tingkat dasar agar tidak mengasingkan anak-anak, remaja dan pemuda desa dari lingkungan tempat hidupnya dan agar mereka menjadi kreatif,” tambahnya.

Menurut Gutomo, teknologi serta variasi teknik budidaya pertanian perlu dibudayakan di kalangan pemuda pedesaan terutama pada situasi media lahan pertanian yang terbatas dan dengan variasi jenis tanaman pangan dan non-pangan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Bila hal itu berjalan dengan baik, maka krisis regenerasi petani di Indonesia bisa ditanggulangi,” katanya.

Dalam diskusi itu, diputarkan film dokumenter berjudul Srono Urip. Film berdurasi 14 menit itu menggambarkan para pemuda desa mengalami modernisasi dan berbondong-bondong pindah ke kota dan hasilnya krisis penggarap pertanian di desa. Urbanisasi pemuda desa ini pun menciptakan krisis regenerasi petani.

Sekilas penggambaran dalam film dokumenter tersebut tentu saja pas dengan kondisi pertanian Indonesia saat ini. Pertanian skala kecil yang selama ini menghasilkan kebutuhan pangan bagi sebagian besar penduduk Indonesia mengalami situasi krisis karena produktivitas pertanian selalu ditopang oleh tenaga kerja usia tua yang semakin kurang produktif. (tety)

Related posts

Didukung 50 Organisasi Perempuan, Giwo Rubianto Semakin Mantap

Tety Polmasari

Le Pen Larang Kantin Sajikan Makanan Tanpa Daging Babi

Tety Polmasari

Profesional Muda Rentan Terkena Kolesterol Jahat

Tety Polmasari

Leave a Comment