21 C
New York
13/06/2021
Aktual

Waspada, Paham Komunis Belum Berlalu

IMG-20150930-00572

    sejarawan Taufik Ismail dan sosiolog DR. Musni Umar menjadi narasumber ‘Dialog 50 Tahun G 30 September’

JAKARTA (Pos Sore) – Meski Gerakan 30 September yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), sudah berlalu dalam hitungan tahun, namun bukan berarti sejarah berdarah itu dilupakan begitu saja.

Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia pernah berkata, “Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sejarah selalu berulang kembali.”

Jangan sampai masyarakat Indonesia lengah dengan kehadiran PKI dengan gaya baru yang bisa menyusup ke partai politik, parlemen, organisasi masyarakat, dan banyak aspek.

Sosiolog Universitas Indonesia DR. Musni Umar, berpendapat selama kemiskinan dan kebodohan masih ada di Indonesia, selama itu pula pemikiran-pemikiran komunis bisa menjadi ‘barang dagangan’ yang diyakininya laris terjual.

“Generasi muda sudah banyak yang lupa sejarah pengkhianatan PKI terhadap republik ini sehingga perlu diwaspadai munculnya komunis gaya baru karena mereka mudah ditipu oleh pihak-pihak yang menginginkan ideologi komunis hidup lagi,” katanya dalam Forum Diskusi Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Fordis KAHMI) bertajuk ‘Dialog 50 Tahun Gerakan 30 September‘, di Jakarta.

Menurutnya, PKI menganut ideologi yang menarik bagi rakyat jelata karena semua orang sama. Tidak ada kelas sosial seperti yang dikenal di dalam masyarakat kapitalis, yaitu kelas bawah (lower class), kelas menengah (middle class), dan kelas atas (high class).

“Biasanya isu ini akan menjadi makanan utama rakyat miskin saat kampanye untuk mendulang suara, meski akhirnya pada saat menang makanan itu tidak disajikan buat rakyat,” kata Musni Umar yang juga anggota Dewan Pakar KAHMI.

Pemilu 1955 menjadi bukti besarnya dukungan rakyat jelata terhadap PKI karena berhasil mengantongi dukungan suara 6.176.914 suara atau 16,3 persen dari 37.875.299 suara pemilih yang sah.

Yang harus diingat, PKI cepat mendapat dukungan dari kalangan masyarakat bawah karena masalah ‘perut’, yaitu keadilan dalam bidang ekonomi.

Rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto memang berhasil menghabisi PKI, tetapi gagal mengentaskan dan memajukan ekonomi dan pendidikan orang-orang miskin. Begitu pula rezim Orde reformasi.

“Saat ini saja angka kemiskinan masih tinggi, angka putus sekolah juga, penggangguran meningkat. Kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia bisa menjadi entry point bangkitnya kemnbali PKI dan kekuatan lama yang telah dihancurkan,” tegas Musni yang juga Wakil Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Yang harus dipertanyakan, lanjut Musni, setelah 50 tahun pemberontakan G 30 S PKI, di mana anak-anak- cucu-cucu dan keluarga dari pimpinan, kader, anggota, dan simpatisan PKI? Apakkah keturunan mereka suudah berubah pendirian dan telah meninggalkan ideologo PKI yang melawan Pancasila dengan kelima silanya, terutama sila pertama ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’?

“Atau mereka mengubah strategi dalam melanjutkan perjuangan orang tua ereka dengan menelusup ke partai-partai politik, lembaga-lembaga negara dan pemimpin di daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain. Yang ketika sudah di pusaran kekuasaan berani berkata ‘Aku Bangga Menjadi Anak PKI!’.” (tety)

Related posts

Di Indonesia, 1 dari 6 Kelahiran Bayi Alami Prematur

Tety Polmasari

Hanura goyang Gelora Bung Karno

Tety Polmasari

Baru 40% UKM Manfaatkan Teknologi Informasi

Tety Polmasari

Leave a Comment