60 Penyandang Tuna Netra Nonton Film Jenderal Soedirman

Sabtu, 24 Okt 2015

soed

JAKARTA (Pos Sore) — Sebanyak 60 penyandang tuna netra menonton film sejarah ‘Jenderal Soedirman’ besutan sutradara Viva Westi di XXI Blok M Square, Jakarta, Sabtu (24/10). Apa yang dapat mereka saksikan? Meski mereka tidak bisa melihat jalannya cerita, tetapi mereka dapat kok mengikuti alur cerita.

Ya, mereka ‘menonton’ dengan bantuan relawan yang membisiki mereka setiap adegan demi adegan. Kebetulan film yang menceritakan perjalanan perjuangan Jenderal Soedirman itu banyak menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Belanda . Tentu saja mereka tidak bisa membaca arti percakapan yang tertera di layar. Di sinilah peran relawan yang menceritakan isi film dengan cara berbisik.

Bioskop berbisik, itulah nama program yang diinisiasi karyawan Standard Chartered Bank. Bersama Think Web dan Mitra Netra berkolaborasi mengajak para tuna netra menonton film Jenderal Sudirman yang diperankan oleh Adipati Dolken tersebut. Yang membisiki karyawan Standard Chartered Bank. Satu karyawan membisiki satu penyandang tuna netra.

Tak heran, para tuna netra ini bisa tertawa terpingkal-pingkal saat ada adegan lucu atau konyol dalam film berdurasi 160 menit itu. Mereka juga bisa merasakan kesedihan saat pengawal Jenderal Soedirman ditembak berkali-kali oleh tentara Belanda ketika mencari temannya yang tertinggal di hutan.

Sebelum film yang juga dibintangi Baim Wong (Sukarno), Nugie (Hatta), Mathias Muchus (Tan Malaka), dan Ibnu Jamil, diputar, para pembisik ini menjelaskan terlebih dahulu film tersebut. Film yang menceritakan tentang kesederhanaan hidup dan keteguhan memegang prinsip seorang Jenderal Soedirman.

“Acara nonton film Jenderal Sudirman ini salah satu sarana untuk mempertemukan keberagaman untuk kebersamaan. Selain juga merupakan bagian dari rangkaian acara perayaan 70 tahun Indonesia,” kata Country Head of Corporate Affairs Standard Chartered Bank Troy Pantouw.

Ia menyebutkan, berdasarkan fakta yang ada sebanyak 1% dari 3,5 juta penduduk Indonesia mengalami kebutaan dan mayoritas berada pada jenjang produktif. Kendalanya adalah para tuna netra belum mendapatkan kesempatan yang sama. Lingkungan juga belum menerima keberadaan mereka. Padahal mereka memiliki potensi yang baik.

Kebayoran Baru-20151024-00802

Boy Jefri dari Yayasan Mitra Netra mengaku senang mendapat kesempatan menonton film sejarah ini. Sejak ia mengalami kebutaan pada 2007 akibat dampak kanker otak yang dideritanya, praktis ia tidak bisa menikmati hobi menonton filmnya.

“Saya senang sekali bisa menonton kembali. Saya mengetahui alur ceritanya dari karyawan Standard Chartered Bank yang membisiki saya,” papar pria yang beristrikan penyandang tuna netra.

Iie Sri Rejeki, Suistanability Manager Corporate Affairs Standard Chartered Bank , menambahkan, melalui prinsip diversity and inclusion yang dipegang teguh, pihaknya memberikan kesempatan yang sama tanpa melihat perbedaan terhadap disabilitas.

“Melalui penyediaan fasilitas yang kami miliki, hal ini dapat mendukung para disabilitas bekerja di bank. Kami yakin prinsip yang dijalankan ini akan dapat menjawab janji kami untuk here for good atau di sini untuk kebaikan,” katanya.

Standard Chartered Bank saat ini mempekerjakan disabilitas di beberapa fungsi yang ada di bank, mulai dari call centre sampai sekretaris. Ada sekitar 7 penyandang tunanetra dan 4 disabilitas yang bekerja di perusahaan perbankan itu. Bahkan, baru-baru ini sudah direkrut 1 penyandang tunarungu.

“Dukungan fasilitas diberikan sesuai dengan kebutuhan para disabilitas, berupa komputer dengan program khusus, lift khusus sampai dengan atm khusus,” tambahnya. (tety)

jendr