Naikkan Harga Rokok Tekan Angka Konsumsi Tembakau

Rabu, 4 Nov 2015

JAKARTA (Pos Sore) — Setiap hari 659 jiwa rakyat Indonesia melayang karena penyakit-penyakit terkait asap rokok. Jumlah ini 13 kali lebih banyak dari kematian yang diakibatkan oleh narkoba. Angka ini juga lebih dari 1000 kali lebih banyak dari kematian akibat asap 2015.

Sayangnya, di Indonesia, alasan kesehatan tidak cukup kuat mengerem konsumsi rokok. Penyebabnya harga rokok yang masih terlalu murah untuk pendapatan yang semakin tinggi.

Padahal, sejak tahun 2000 jumlah perokok di Indonesia terus meningkat dari 217 milyar batang menjadi 344 milyar batang pada 2013.

Begitu yang terungkap dalam workshop Ekonomi Tembakau yang diadakan Bisnis Indonesia Learning Center dan Campaign For Tobacco-Free Kids, di Jakarta, Rabu (4/11), di Jakarta. Menghadirkan dan dr Kartono Muhammad, pengamat kesehatan.

Prof. Dr. Hasbullah Thabrany, Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan UI, berpendapat, cara efektif melindungi remaja dan murid sekolah dari memulai merokok adalah dengan harga rokok yang mahal. Cara ini terbukti efektif menurunkan konsumsi rokok.

“Ini satu-satunya cara untuk menekan konsumsi rokok ialah dengan menaikkan harga,” katanya.

Itulah fungsi utama cukai. Lebih efektif dibandingkan dengan pesan rokok berbahaya bagi kesehatan karena rokok mengandung nikotin yang adiktif. Artinya, orang yang sudah ketagihan akan tetap membeli rokok, meskipun harga naik dua kali lipat.

“Efek dari kenaikan harga tidak sebanding dengan penurunan konsumsi. Misalnya saja, jika harga rokok naik 20%, konsumsi rokok hanya turun 8%,” paparnya.

Menurutnya, harga rokok di Indonesia terlalu murah dibandingkan negara Asean lainnya. Karenanya, harga rokok bisa dibuat mahal dengan menaikkan cukai minimum 70% sesuai rekomendasi WHO dari harga eceran rokok per bungkus. (tety)