Gaya Hidup Serba Cepat Picu Seseorang Alami Gangguan Kecemasan

Selasa, 17 Nov 2015

JAKARTA (Pos Sore) — Dari data Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2013, menunjukkan sekitar 16 juta orang atau sekitar 6% penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional seperti cemas, depresi, dan psikosomatik.

Sayangnya, masalah gangguan kecemasan (ansiety) sering dianggap masalah biasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ketika masalah kecemasan ini berlangsung terus menerus dan mengganggu kehidupan pribadi dan sosial prang yang mengalaminya, maka orang tersebut sudah mengalami gangguan kecemasan.

“Gejala gangguan cemas banyak dialami oleh manusia jaman sekarang. Sadar atau tidak, banyak di antara kita yang mengalami masalah kecemasan,” kata psikiater senior, dr.Danardi Sosrosumihardjo, saat menjadi narasumber Pfizer Press Circle (PPC) dengan topik ‘Mengendalikan Kecemasan untuk Hidup Lebih Berkualitas’, yang diadakan PT Pfizer Indonesia, di Jakarta, Rabu (11/11).

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) ini, lingkungan yang dinamis, gaya hidup kaum urban yang serba cepat, masalah pemanasan global, sebagian hal umum yang bisa memicu seseorang mengalami kecemasan.

“Hal ini belum ditambah dengan kondisi spesifik yang berkaitan dengan orang tersebut. Faktor genetik bawaan, kepribadian seseorang dan kondisi lingkungannya adalah hal-hal terkait munculnya gangguan jiwa pada seseorang, termasuk masalah kecemasan,” tambah Presiden Asean Federation for Psychiatry and Mental Health (AFPMH) ini.

Gejala kecemasan yang paling serius adalah merasa sakit jantung, merasa berdebar bahkan memutuskan mendatangi IGD. Sedangkan gejala lainnya antara lain susah konsentrasi, gejala fisik atau psikosomatik seperti lambung tidak enak, sakit kepala, hingga sulit konsentrasi.

“Kemudian gejala fisik lain seperti diare, pusing, keringat dingin, sesak napas, mual. Sedangkan gejala psikologisnya seperti merasa khawatir, was-was, gugup atau ketakutan,” tambahnya.

Danardi menerangkan, setiap manusia mempunyai karakter dan memiliki berbagai mekanisme defence. Mekanisme ini akan membentuk pola berkaitan dalam menghadapi kecemasan yang dialami.

“Saat karakter yang dimiliki positif dan mekanisme defence digunakan dengan tepat, maka individu tersebut bisa menghadapi dan mengendalikan gangguan dengan baik. Saat yang terjadi sebaliknya, maka menimbulkan rasa cemas atau ketegangan terus menerus.”

Selain faktor di atas ternyata timbulnya gangguan kecemasan dilihat dari kacamata psikiater ada tiga. Penyebab pertama dilihat dari sisi organ biologi, bahwa gangguan kecemasan bisa timbul karena gangguan hormonal.

Penyebab kedua disebut psiko edukasi, atau adanya trauma masa lalu, tekanan yang ada saat ini dan pola asuh orangtua menjadi pengaruh timbulnya gangguan kecemasan. Penyebab ketiga disebut sosio kultural, yaitu gangguan kecemasan yang bisa timbul karena pandangan adat, budaya dan agama.

“Contohnya, untuk di Jawa, kakak yang dilangkahi adiknya untuk menikah lebih dulu, bisa saja gangguan kecemasan timbul karena hal seperti ini,” katanya. (tety)