Tidak Semua Penyakit Perlu Ditangani dengan Memberikan Antibiotik

Kamis, 21 Jan 2016

Tanah Abang-20160121-01730

JAKARTA (Pos Sore) – Resistensi bakteri terhadap antibiotik yang dapat disebabkan oleh penggunaan yang kurang tepat sudah menjadi masalah di berbagai rumah sakit di Indonesia dan dunia. Permasalahan yang cukup pelik ini harus segera diatasi bersama.

“Penggunaan antibiotik yang bijak dan rasional dapat mengurangi beban penyakit, khususnya penyakit infeksi,” kata dr. Harry Parathon, Sp.OG(K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Kamis (21/1).

Dalam Pfizer Press Circle (PPC) dengan topik ‘Pentingnya Kesadaran Mengenai Resistensi dan Kepatuhan Penggunaan Antibiotik yang Tepat’, yang diadakan PT Pfizer Indonesia, dr Harry juga mengingatkan, penggunaan antibiotik secara luas yang tidak sesuai indikasi, mengakibatkan meningkatnya resistensi antibiotika secara signifikan.

“Tidak semua penyakit perlu ditangani dengan memberi antibiotik. Penggunaan antibiotik semata hanya untuk mengobati penyakit yang disebabkan infeksi kuman dan bakteri,” tegasnya.

Jika masalah ini tidak ditangani segera, ia memperkirakan pada 2050 ada 10 juta kematian akibat resistensi antimikroba pertahunnya. Sebanyak 4,6 juta kematian di antaranya terjadi di Asia.

Tanah Abang-20160121-01731

Saat ini, katanya, di Thailand angka kematian sekitar 38 ribu orang per tahun. Bagaimana dengan di Indonesia? Di negeri ini diperkirakan ada 135 ribu orang meninggal pertahunnya akibat bakteri resisten.

Karena itu, lanjutnya, perlu adanya peningkatan kesadaran di masyarakat mengenai resistensi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan tidak sesuai dengan dosis dapat menimbulkan resistensi.

“Resistensi antibiotik dapat menyebabkan kematian karena antibiotik tak lagi bisa membunuh bakteri atau kuman penyebab penyakit,” tandasnya.

Dia menjelaskan, kurangnya kepatuhan penggunaan antibiotik menjadi penyebab seseorang mengalami resistensi antibiotik Selain itu, mudahnya masyarakat membeli antibiotik di apotek, kios atau warung.

“Seharusnya, antibiotik tidak dijual bebas dan harus berdasarkan resep dokter. Menyimpan antibiotik cadangan di rumah, hingga memaksa dokter untuk minta dituliskan resep antibiotik, sering terjadi di masyarakat. Ini dapat mendorong terjadinya resistensi antibiotika,” lanjutnya. (tety)

Tanah Abang-20160121-01737