80% Bahan Baku Susu dari Impor

Jumat, 5 Feb 2016

JAKARTA (Pos Sore) – Sekitar 80% bahan baku susu (skim powder) dipenuhi dari impor. Hal ini dilakukan karena kebutuhan susu nasional terus meningkat, sementara produksi susu segar dalam negeri mengalami penurunan.

Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) mengatakan produksi susu segar dalam negeri hanya sekitar 18% dari kebutuhan sehingga sisanya harus diimpor

Padahal saat ini harga susu dunia mengalami penurunan akan tetapi seluruh produksi susu peternak tetap ditampung oleh industri pengolah susu sesuai dengan komitmen, yang diikuti dengan peningkatan kualitas susu.

Melihat persoalan ini, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran, Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta, melakukan rapat dengan sejumlah pengusaha susu, di Kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Rabu (3/2).

Hadir dalam rapat ini yaitu pelaku usaha dari Asosiasi Industri Pengolahan Susu, Ketua Dewan Persusuan Nasional (DPN), Staf Ahli Menteri Bidang Produktivitas dan Daya Saing, A. Kadir Damanik, Dr. Fadjar Sofyar, Komunitas Bangun Indonesia, dan koperasi susu dari berbagai daerah.

“Banyak masalah menyebabkan produksi susu nasional semakin menurun antara lain, sulitnya pakan hijauan, mahalnya harga bahan baku pakan konsentrat, penurunan genetik sapi perah dan manajemen peternakan yang belum optimal,” kata Wayan.

Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) mengemukakan asupan nutrisi protein masyarakat semakin meningkat tetapi berbanding terbalik dengan produksi susu nasional.

“Untuk memenuhi produksi susu nasional dipenuhi dari bahan baku susu impor (skim powder) sekitar 80%,” ungkapnya.

Kendala utama dalam pengembangan usaha sapi perah adalah keterbatasan lahan peternakan. Karena itu, diharapkan lahan milik Pemerintah (Tanah Perhutani dan atau perkebunan) dapat disewakan kepada koperasi untuk penanaman rumput.

“Harus ada kebijakan yang radikal terhadap permasalahan lahan agar swasembada tahun 2020 bisa tercapai,” tegasnya.

Ketua Dewan Persusuan Nasional menambahkan, perlu payung hukum untuk melindungi peternak sapi perah. Disarankan juga koperasi memiliki pabrik pakan konsentrat untuk memenuhi kebutuhan pakan konsentrat dengan harga murah dan kualitas baik serta adanya rearing dan skim kredit

KPSP Setia Kawan, Pasuruan-Jawa Timur mengungkapkan meski populasi sapi perah menurun namun peternak berupaya meningkatkan produksi.

Caranya menerapkan sapi perah yang dikelola hanya sapi dengan produksi susu minimal 10 liter/ekor/hari. Jumlah anggota peternak sapi perah sebanyak 4.545 orang. Populasi sapi 17.302 ekor dengan jumlah produksi susu 82.000 liter/hari.

Rapat menyepakati untuk menerbitkan payung hukum pengembangan persusuan nasional sekaligus untuk melindungi peternak dalam negeri. (tety)