11.7 C
New York
11/05/2021
Aktual

Kemnaker Gandeng Sembilan Perguruan Tinggi

JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Ketenagakerjaan menggandeng Sembilan perguruan tinggi untuk mengurai permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia dan membuka perspektif baru pembangunan ketenagakerjaan ke depan yang ideal.

Kesepahaman dan kerjasama dengan para ahli dan akademisi dari Perguruan Tinggi dan kelompok masyarakat sipil dilakukan secara perorangan maupun kelembagaan dilakukan untuk mendapatkan grand desain peningkatan kualitas SDM pekerja Indonesia yang lebih baik.

Kesembilan kampus yang ikut menandatangani nota kesepahaman itu adalah Universitas Sumatera Utara (Prof. Dr. Runtung Sitepu SH, M.Hum), Universitas Trilogi Jakarta (Dr. M. Rizal Taufikuroman), Universitas Airlangga (Prof. Dr. M. Nasih), Perbanas Institute (Adi Darmawan), Universitas Negeri Yogyakarta (Dr. Ing. Satoto E. Nayano M.Eng), IAIN Jember (Babun Suharto), Center for Indonesia Policy Studies (Anthea Haryoko), Universitas Hasanuddin (Budu) dan Universitas Padjajaran berhalangan hadir serta Zanterman Radjagukguk (Puslitbang Kemenaker).

Para ahli dan akademisi diyakini lebih objektif dan memiliki spektrum lebih luas sehingga mampu melihat dan menemukan sisi lain permasalahan ketenagakerjaan. Harapan selanjutnya kita secara kolektif akan mendapatkan kesimpulan dan rekomendasi kebijakan untuk pemecahan permasalahan secara lebih baik.

Mewakili Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, dalam kesempatan ini juga Sekjen Kemnaker Abdul Wahab Bangkona melakukan peresmian Team of Policy Research (TPR) Ketenagakerjaan, dan Pembukaan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Penelitian dan Pengembangan Tahun 2016 Barenbang Ketenagakerjaan.

Abdul Wahab mengatakan nota kesepahaman dengan sembilan perguruan tinggi tersebut dalam upaya meningkatkan kualitas dan sumber daya pekerja Indonesia melalui pendidikan dan pelatihan kerja.

Permasalahan bidang ketenagakerjaan yang terjadi di Indonesia sangatlah komplek, maka disadari dalam membangun bidang ketenagakerjaan tidak dapat berdiri sendiri dan harus melibatkan stake holder terkait, termasuk para ahli dan akademisi.

Pemerintah berharap semua pihak harus memperkuat fundamental di segala bidang, sehingga tidak mudah goyah dengan berbagai terpaan baik dari luar maupun dalam negeri. Seluruh pemangkut kepentingan juga harus selalu waspada terhadap adanya perubahan yang ada dan memprediksi kemungkinan adanya perubahan lingkungan strategis yang akan timbul untuk diantisipasi.

Catatan Kemnaker menunjukkan hingga saat ini kualitas pekerja Indonesia masih didominasi oleh pendidikan rendah. Bahkan berdasarkan Sakernas Agustus 2015, penduduk usia kerja berpendidikan SD ke bawah sebanyak 80,11 juta orang atau 43 persen. Sedangkan berpendidikan di atas SLTA hanya 15,82 juta (8,59 persen).

Sedangkan angkatan kerja berpendidikan SD ke bawah masih sebanyak 52,26 juta orang atau 42,70 persen, berpendidikan di atas SLTA baru 13,55 juta (11,07 persen). Hal itu tak jauh berbeda, sudah bekerja yang berpendidikan SD ke bawah sebanyak 50,26 juta orang (44,27 persen). Sedangkan yang berpendidikan di atas SLTA hanya 12,64 juta (11 persen).

Dari data yang dihimpun, tahun 2013, penduduk usia muda yang terjun ke pasar kerja sebanyak 16,39 juta dan mengalami kenaikan setahun berikutnya menjadi 15,66juta dan terus melonjak tahun 2015 menjadi 15,75 juta. (hasyim)

 

Related posts

Mantan Walikota Depok Dicekal Ke Luar Negeri

Tety Polmasari

Ahok Divonis 2 Tahun, Jokowi Minta Semua Pihak Hormati Putusan Majelis Hakim

Tety Polmasari

Selain pisang cavendish, Posdaya Flamboyan juga tanam Jerlem

Tety Polmasari

Leave a Comment