Caketum Andalkan ‘Tentengan’ Hancurkan Golkar

Jumat, 15 Apr 2016

JAKARTA (Pos Sore)— Masa depan partai politik (parpol) di Indonesia, termasuk Partai Golkar bergantung kepada cara dan langkah ketua umum parpol tersebut menciptakan tradisi baru. Salah satunya tradisi perdebatan konseptual di internal partai.

Hal tersebut dikatakan Sekjen DPP Partai Golkar, Idrus Marham, Jumat (15/4). Perdebatan mampu memperkuat konsep ketua umum menghadapi tantangan ke depan. Sebaliknya, jika calon ketua umum (caketum) hanya mengandalkan finansial atau ‘tentengan’, justru akan berdampak buruk kepada partai.

“Beda tantangan dan tentengan. Siapapun yang mengandalkan tentengan, secara tidak langsung yang bersangkutan akan menghancurkan partai termasuk Partai Golkar,” kata Idrus.

Apalagi, kata Idrus, jika berkaca kepada sejarah berdirinya Golkar, sangat berkaitan dengan pergerakan. Hakikat Golkar adalah sebuah gerakan kolektif, bukan menonjolkan individu semata.

“Golkar adalah sebuah gerakan ideologis. Apakah parpol-parpol sekarang ini pernah bicara ideologi? Secara kasat mata, tidak. Lebih banyak menggunakan sebagai tiket politik, bukan alat perjuangan politik,” kata Idrus yang menyatakan siap maju sebagai calon ketua umum Golkar pada Munaslub, Mei mendatang.

Idrus menilai, magnet Golkar dari waktu ke waktu terus melemah dengan indikasi terus berkurangnya perolehan suara di semua tingkatan dalam pemilu legislatif. “Untuk memperkuat magnet Golkar perlu kepemimpinan yang kuat.”

Kemudian, kesetiakawanan sosial di kalangan internal partai makin melemah, seperti terjadinya saling menjatuhkan sesama kader. “Ini bisa terlihat di parlemen. Ini juga membuat tingkat kepercayaan masyarakat kepada Golkar makin lemah,” aku Idrus.

Dia sempat ragu ingin maju sebagai salah satu ceketum. Karena dirinya menyadari, untuk maju sebagai caketum harus melakukan dialog dengan kader partai di daerah.

“Setelah Rapimnas Januari lalu, saya berpikir maju atau tidak. Saya masih sekjen, tentu masih disibukan urusan internal partai sehingga belum sempat melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah. Dari 34 Provinsi, saya baru mengunjungi 13 Provinsi,” jelas dia.

Namun, Idrus berjanji, jika dirinya dipercaya peserta Munas sebagai ketua umum Partai Golkar, dirinya akan mengunjungi seluruh provinsi dalam waktu 3 bulan. “Kalau bisa dalam waktu 2 bulan. Selain bertemu kader, saya juga akan melakukan dialog terbuka dengan semua komponen,” janji Idrus.

Sebagai ketua umum partai, ulas Idrus, tidak bisa mengindar dari mayarakat. “Ketua umum harus menyelesaikan semua masalah, tidak boleh mengindar dari masalah.”

Pada kesempatan serupa, pengamat politik MQodari mengatakan, calon ketua umum partai harus banyak bicara dengan kader di daerah, karena suara terbanyak itu ada di daerah.

Selain itu memang perlu modal sosial dan modal finansial. “ Soal modal finansial, itu tidak bisa dihindari karena kader Golkar sudah pragmatis. Namun, yang tidak kalah penting harus dimiliki calon ketua umum adalah kemampuan intelektual yang mamdai.

“Untuk modal sosial dan kemampuan bang Idrus sudah tidak perlu diragukan. Terkait modal finansial yang tadi disebutnya tentengan apakah memadai, saya tidak tahu,” kata Qodari yang duduk berdampingan dengan Idrus Marham. (akhir)