Merck dan PERDOSSI Ajak Masyarakat Lawan Neuropati

Rabu, 27 Apr 2016

JAKARTA (Pos Sore) – Angka kejadian neuropati di Indonesia cukup tinggi. Sebanyak 43% dari 16.800 responden di Neuropathy Check Points Neurobion 2015 di 11 kota di Indonesia terbukti berisiko terkena neuropati.

Neuropati? Ini adalah kondisi gangguan dan kerusakan saraf yang dapat disebabkan oleh trauma pada saraf, efek samping suatu penyakit sistemik, atau karena kekurangan vitamin B1, B6, dan B12, yang ditandai dengan gejala seperti kesemutan, kebas, mati rasa dan kram.

Gaya hidup yang kurang baik terbukti memicu tingginya angka orang berisiko neuropati. Lebih dari 50% masyarakat melakukan aktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang berisiko neuropati. Apa saja? Seperti mengetik di gadget dan komputer, mengendarai motor dan mobil dalam waktu lama, duduk lama di posisi yang sama, dan memakai sepatu hak tinggi.

Neuropati yang sesungguhnya dapat dicegah ini bisa mempengaruhi kualitas hidup seseorang karena menyebabkan penurunan kekuatan motorik, penurunan sensasi rasa sehingga mudah terluka, impotensi, depresi, penurunan berat badan, luka dan Carpal Tunnel Syndrome (CTS).

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), yang juga konsultan neurologis dari Departement Neurologi FKUI/RSCM menegaskan, neuropati memberikan beragam ketidaknyamanan dalam beraktivitas sehari-hari.

“Jika dibiarkan, gejala neuropati seperti kram, kebas dan kesemutan dapat mengarah pada kelumpuhan. Saraf yang rusak akan sulit diperbaiki. Padahal neuropati dapat dicegah sejak dini,” jelasnya.

Itu sebabnya, menyambut Pekan Kesadaran Neuropati yang secara global diperingati setiap 12-16 Mei, Merck bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) meluncurkan Kampanye Lawan Neuropati.

“Kampanye Lawan Neuropati adalah kampanye edukatif untuk pencegahan neuropati yang pertama kali diadakan di Indonesia,” kata Anie Rachmayani, Head of Marketing Consumer Health, PT Merck Tbk, pada Media Workshop bertajuk #LawanNeuropati, di Jakarta, Rabu (27/4).

Dalam kampanye Lawan Neuropati ini akan dilakukan berbagai kegiatan seperti meneruskan Neuropathy Check Point di lebih banyak kota, sosialisasi NeuroMove ke klub senam dan masyarakat awam serta instansi pemerintahan, edukasi melalui media sosial, dan pelatihan suster dalam melakukan pemeriksaan kesehatan saraf.

Puncak dari Kampanye Lawan Neuropati ini akan dilakukan pada Pekan Neuropati pada 15 Mei 2016 di Ancol. Dalam acara tersebut masyarakat dapat memeriksakan kesehatan saraf secara gratis dan melakukan Neuromove bersama 10.000 warga DKI Jakarta.

“Kami juga akan memecahkan rekor MURI untuk Peserta Pemeriksaan Kesehatan Saraf Terbanyak, Peserta Senam Neuromove Terbanyak dan Penggunaan Tagar #LawanNeuropati terbanyak,” paparnya.

Pentingnya kampanye ini juga diamini Prof. Dr. dr. Moh Hasan Machfoed, Sp.S(K), M.S, Ketua Umum PP PERDOSSI dan Konsultan Neurologis. Semakin banyak masyarakat yang memahami apa itu neuropati, akan semakin banyak pula masyarakat yang hidupnya semakin berkualitas.

“Kampanye Lawan Neuropati ini sebagai upaya kami menginspirasi masyarakat luas untuk melakukan pencegahan neuropati,” katanya.

Holger Guenzel, Direktur Divisi Consumer Health PT Merck Tbk berharap edukasi mengenai neuropati dan kesehatan saraf selama bertahun-tahun yang dilakukan Merck akan semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan saraf.

“Bersama dengan PERDOSSI dan ahli kesehatan olahraga, Merck juga telah menciptakan Neuromove. Kerjasama ini juga terus berkembang lebih luas lagi dalam Kampanye Lawan Neuropati dan Pekan Neuropati 2016 pada 15 Mei 2016. Melalui acara tersebut, kami mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan pencegahan neuropati,” tegasnya.

photo 3

Apa itu Neuromove? Spesialis Kedokteran Olahraga dr. Ade Tobing, SpKO, mengatakan, Neuromove adalah gerakan olahraga yang didesain secara khusus untuk mengaktifkan sel-sel saraf, seperti gerakan menyilang batang tubuh, koordinasi bola mata, tangan, balance, dan focus pada gerakan stretching untuk peregangan yang dapat menghindari cedera.

“Neuro move sangat praktis dan mudah dilakukan di mana saja, khususnya pada saat beraktivitas seharian di kantor. Cukup sediakan waktu 15-20 menit untuk keseluruhan gerakan Neuromove, atau durasi 5-10 menit untuk gerakaninti yang dapatdilakukan di area kantorataurumah yang terbatas. Lakukan senam neuromove minimal 3 kali seminggu untuk menjaga kesehatan saraf,” paparnya.

Selain mempraktekkan Neuromove secara teratur, Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), menambahkan, istirahat yang cukup juga penting untuk regenerasi sel saraf.

Tak lupa mengonsumsi vitamin neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 yang akan membantu memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik.

Ia menuturkan, riset mengenai efikasi penggunaan Vitamin B1, B6 dan B12 pada 310 pasien dengan neuropati perifer diabetik menunjukkan adanya perubahan positif berupa berkurangnya nyeri pada 271 pasien. (tety)