OSO Bangkitkan Semangat Rakyat Sulit Air

Senin, 2 Mei 2016
foto istimewa

SOLOK (Pos Sore) — Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang (OSO) membangkitkan semangat rakyat Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat saat memperingati hari jadi Nagari Sulit Air ke-195, Sabtu (30/4).

OSO yang berdarah Sulit Air membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat setempat. Mengapa? Orang tua OSO diusir Belanda ke Kalimantan, karena memberontak terhadap kolonialisme pada zaman penjajahan Belanda.

Peringatan berdirinya 195 tahun nagari Sulit Air ini berlangsung meriah dan mendapat dukungan dari masyarakat yang tergabung dalam Sulit Air Sepakat (SAS). Sekitar 6000 an warga datang dari seluruh pelosok Indonesia, Australia, Malaysia, Thailand, dan negara lain, yang selama ini merantau ke luar dari Sulit Air, Solok, Sumatera Barat.

Dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR dan Peringatan Hari Jadi Sulit Air ke-195 tersebut hadir antara lain Pangdam I Bukit Barisan, Wakapolda Sumatera Barat, Bupati Solok, H. Gusmal, mantan anggota DPR RI dari Golkar, Happy Bone Zulkarnaen, dan tokoh masyarakat.

Menurut OSO, masyarakat Sulit Air harus bangkit karena telah melakukan perjuangan sejak 195 tahun yang lalu. Masyarakat Sulit Air terbukti ikut berjuang dalam Perang Paderi, dan Sulit tetap berdiri sampai hari ini.

“Peringatan itu bukan untuk kepentingan politik, tapi untuk kepentingan bangsa. Kita wajib menjaga nasionalisme, keberagaman dan pluralisme bangsa ini agar kita makin menyintai Indonesia. Indonesia dengan falsafah Pancasila, UUD NRI Tahun 1945 sebagai dasar negara, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.”

Bachtiar Aly menegaskan jika negara Pancasila ini sebagai bentuk keberagaman dan pluralisme bangsa di mana Indonesia terbentuk. Untuk itu, jangan sampai ada yang bermimpi mengganti Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa, karena hal itu mustahil mengingat Indonesia terbentuk dan merdeka justru dari keberagaman.

“Bahasa persatuannya pun bukan bahasa Jawa, meski Jawa mayoritas, melainkan bahasa Melayu – Indonesia,”

Mengapa? Karena bahasa Indonesia itu sebagai perdagangan Indonesia dengan negara-negara Madagaskar, India, Timur Tengah, Eropa dan dunia. Karena itu, kita wajib menjaga NKRI, setia kepada UUD NRI 1845.

“Boleh mengamandemen UUD tapi sebatas pasal perpasal, dan bukan pembukaan UUD 1945, karena pembukaan itu ruh dalam berbangsa dan bernegara. Khususnya penghapusan penjajahan dalam bentuk apapun harus di muka bumi ini, menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), dan karenanya kita mendukung kemerdekaan Palestina dan lain-lain,” jelas Bachtiar Aly, anggota DPR RI dari Dapil Aceh itu.

Idris Laena (Ketua Banggar), berpendapat kita bangga sebagai bangsa Indonesia karena mempunyai empat pilar MPR RI. Terkait dalam hal perekonomian daerah, sesuai pasal 33 (1) bahwa perekonomian Indonesia disusun dengan melibatkan seluruh masyarakat dalam perencanaan pembangunan perekonomian nasional.

Di tahun 2016 ini dengan APBN sebesar Rp2019 triliun, sebanyak Rp 750 triliunnya sebagai dana transfer daerah, dan 10%-nya untuk desa atau sekitar Rp75 triliun, maka diharapkan desa-desa bisa berkembang dengan baik.

“Karena itu, daerah Sulit Air insya Allah akan dapat anggaran yang lebih besar lagi, jika memang dibutuhkan,” ujarnya.

Bupati Solok H. Gusmal mengatakan jika Kabupaten Solok seluas 3,374 Km2 terdiri dari 414 desa ini baru mendapat dana transfer daerah Rp 100 miliar. Jauh dibandingkan Aceh Darussalam yang mencapai Rp 6 triliun. Untuk itu kalau bisa ditingkatkan menjadi Rp 600 miliar, sehingga setiap desa akan mendapat sekitar Rp 1,5 miliar. “Rencananya, Kabupaten Solok ini akan dimekarkan,” demikian Gusmal. (akhir)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015