11.7 C
New York
11/05/2021
Aktual

Tradisi Unik Tenun Sumbawa Dapat Tingkatkan Perekonomian UKM

JAKARTA (Pos Sore) — ‘Na sepan tau sawai lamin no to nesek’. Ini ungkapan masyarakat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang artinya ‘bukan perempuan Sumbawa kalau tidak bisa menenun’.

Tak heran, jika perempuan di sana masih terlihat sering menenun. Bukan sekedar menenun. Ada makna filosofi di setiap motif tenun khas Sumbawa. Motif Kemangi Setangi, misalnya, yang melambangkan keindahan dan kemakmuran.

Ada pula motif Lonto Engal yang menggambarkan persatuan dan ikatan silaturahmi. Motif Perahu yang melukiskan kesejahteraan. Dan ada juga motif Ayam Jago yang melambangkan kejantanan dan disiplin.

Seiring dengan perkembangan zaman, hasil karya tenun Sumbawa pun mengalami modifikasi. Kain tenun Sumbawa tak hanya dikenakan pada kegiatan-kegiatan upacara setempat seperti acara nyorong, barodak prapanca, upacara lamaran, malam midodareni, pernikahan, hingga acara penobatan sultan.

Kain tenun juga kini banyak digunakan sebagai pakaian sehari-hari masyarakat Sumbawa, dan di berbagai kegiatan sosial masyarakat.

Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi UKM (LLP-KUKM) Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi, menilai tenun adalah karya budaya yang  bersifat superorganik. Artinya kebudayaan diwariskan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan akan hidup terus menerus meskipun anggota masyarakat silih berganti.

“Namun akhir-akhir ini karya budaya kita sering diakui bangsa lain. Untuk itu, peranan budaya lokal sangat penting dalam memperkokoh ketahanan budaya bangsa,” katanya.

IMG-20160506-WA0000

    Wakil Bupati Sumbawa Mahmud Abdullah (safari biru), Dirut LLP-KUKM Ahmad Zabadi (batik coklat), Staf Ahli Menkop Samuel Wattimena (berkacamata), dan Bupati Sumbawa Husni Djibril (safari coklat) berbincang-bincang di kantor Bupati Sumbawa terkait kegiatan Festival Tenun Nusantara.

Usai bertemu dengan para pengrajin tenun di Sumbawa, Zabadi menambahkan, masyarakat Sumbawa harus melestarikan budayanya sendiri agar dapat melestarikan tradisi menenun sekaligus meningkatkan nilai ekonominya, sehingga produk tenunnya diterima pasar

Pertemuan dengan para perajin yang berasal dari desa Poto, desa Semeri, desa Singu, desa Senampar, desa Dalam, dan Desa Pamulung itu, juga dihadiri desainer terkenal Indonesia Samuel Wattimena, yang juga Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, dan Dr. Fadjar Sofyar Direktur Utama Sea Side Hotel Sumbawa.

Karenanya, LLP KUKM dengan komitmen besarnya mewujudkan Smesco RumahKU (Smesco Rumahnya Koperasi dan UMKM), akan memfasilitasi upaya promosi tenun Sumbawa. Bukan saja sekedar menjaga nilai-nilai haritage dari karya tenun, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi peningkatan kesejahteraan bagi para pengrajin tenun.

Ditambahkan Zabadi, karena itu Smesco akan mendukung Festival Tenun Sumbawa yang diselenggarakan secara bersamaan dengan Festival Moyo 2016 pada September mendatang.

Sementara itu, Samuel Wattimena menambahkan budaya tenun di Pulau Sumbawa ini perlu mendapatkan perhatian lebih dalam memasuki perekonomian global. Karena, menurutnya, budaya tenun yang menjadi sumber kekayaan Indonesia, sangat berpotensi untuk dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di Pulau Sumbawa, selaku para pengrajin tenun.

Terkait pelaksanaan Festival Tenun Sumbawa, Fadjar Sofyar menegaskan Sea Side Hotel siap memberikan dukungan bagi terpilharanya tradisi tenun Sumbawa sebagai bagian dari kekayaan haritage bangsa.

“Sea Side  siap mendukung terselenggaranya Festival Tenun Nusantara, tegas mantan Sekjen Kementerian Koperasi  dan UKM tersebut. (tety)

Related posts

Di Tengah Pandemi Corona, Jazuli: Komitmen PKS Buat Rakyat Tidak Surut

Akhir Tanjung

Ribuan Warga Sambut Jenazah Angelina

Tety Polmasari

Pengemudi Tewas Saat Mobil Tercebur di Kali Sekretaris

Tety Polmasari

Leave a Comment