Tarman Azzam: Menjadi Wartawan untuk Mengabdi kepada Bangsa dan Negara

Jumat, 9 Sep 2016

JAKARTA (Pos Sore) — Kabar wafatnya Tarman Azzam, Ketua Dewan Penasehat PWI Pusat, di Ambon, pada Jumat (9/9/2016), mengagetkan kalangan wartawan. Siapa yang tak kenal dengan sosok pria yang murah senyum ini. Di usianya yang tak lagi muda masih dipercaya ikut mengurus organisasi yang menaungi profesi wartawan di tanah air.

Mantan Ketua PWI Jaya, ini memang amat suka berorganisasi sejak masa remaja. Kala itu, ia aktif dalam organisasi Pelajar Islam (PII) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Sekitar 1966, ia aktif pula dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Saat menjadi mahasiswa, ia aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Tarman Azzam memasuki profesi wartawan karena panggilan jiwa untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Kedengarannya klise. Tapi itulah yang tak akan berhenti ia ucapkan setiap kali ditanya mengapa menjadi wartawan. (pwi.org.id)

Karirnya sebagai wartawan diawali ketika ia lulus diterima menjadi anggota Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) cabang Jakarta. Setiap anggota IPMI, dengan sendirinya dapat diterima menjadi wartawan KAMI. Ini adalah koran yang dipimpin dan dikelola oleh sebagian besar para aktivis mahasiswa anggota KAMI. Koran inilah pula pada awalnya yang berhasil mendidik dan melatih keterampilan profesi jurnalistiknya, sehingga ia menjadi wartawan seperti sekarang.

Setelah KAMI dibredel bersama 12 suratkabar lain di Indonesia karena peristiwa 15 Januari 1974 (Malari), ia memilih Radio Arif Rakhman Hakim (ARH) sebagai tempat untuk penyaluran profesinya. Namun, di sini ia tak lama. Hanya satu tahun (1975).

Satu tahun kemudian (tahun 1975), ia dapat bersatu kembali dengan teman-temannya, para mantan wartawan KAMI yang lebih dulu diminta oleh Harmoko untuk memperkuat jajaran redaksi Pos Sore, yang kini menjadi Harian Terbit.

Ketika menjalani karir wartawan, ia menjadi Anggota PWI hingga menjadi Ketua PWI Jaya dan Ketua Umum PWI Pusat. Posisi yang terakhir ini dijabat Tarman selama dua periode kepengurusan, 1998-2003 dan 2003-2008.

Di samping itu, sebagai pengurus PWI ia juga pernah menjadi anggota MPR, anggota DPRD DKI Jakarta dan Majelis Pakar Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).

Tarman Azzam menjadi Ketua PWI Jaya dalam kurun 1993-1995 dalam rangka pergantian antar waktu, meneruskan masa jabatan Masdun Pranoto (Angkatan Bersenjata) yang pindah ke Kalimantan Barat. Sebelumnya, Tarman menjabat wakil sekretaris. Kemudian ia dipercaya melanjutkan tugas sebagai ketua untuk kepengurusan PWI Jaya peridoe 1995-1999.

Dalam posisinya sebagai Ketua PWI, ia selalu menekankan, kebebasan pers itu harus tunduk pada etika profesi dan wartawan harus jelas memposisikan dirinya tunduk pada etika. Semua wartawan anggota PWI diminta harus tunduk dan melaksanakan kode etik jurnalistik PWI.

Demikian juga bagi mereka yang menjadi anggota organisasi wartawan lain, maka harus juga melaksanakan ketaatan pada kode etiknya baru bisa disebut wartawan yang bermartabat.

Salah satu karya PWI Jaya di bawa kepemimpinannya yakni untuk pertama kali diterbitkan buku mengenai sejarah dan perjuangan PWI Jaya berjudul ‘PWI Jaya di Arena Massa’ yang disusun oleh Soebagio I.N., seorang sejarawan pers Indonesia, pensiunan Kantor Berita ANTARA pada 1998.

Di era kepemimpinan Tarman juga, PWI Jaya terhitung sejak 1995 telah mengabadikan nama Mohammad Hoesni Thamrin, tokoh pers nasional dan pejuang kemerdekaan asal Betawi, sebagai bentuk satu penghargaan tertingga atas karya jurnalistik terbaik para anggota PWI Jaya. Anugerah ini merupakan pengganti Anugerah Jurnalistik Adinegoro yang diadakan PWI Jaya sejak 1974, tapi sejak 1995 program itu telah ditingkatkan menjadi program PWI Pusat. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015