1.3 C
New York
27/01/2021
Aktual

Importir Wajib Tanam Bawang Putih, Kementan Sosialisasikan Permentan No 16 Tahun 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian sosialisasikan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 16 Tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura.

Salah satu kebijakan dalam Permentan itu adalah importir diharuskan menanam bawang putih 5 persen dari hasil importirnya.

“Kalau impornya 1.000, berarti 5 persennya harus nanam. Kemudian dibagi 6 ton per hektar, itulah luasnya yang harus ditanam. Jadi ada kewajiban dia nanam,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono, di kantornya​, Jumat (19/5).

Dalam kesempatan itu turut mendampingi, Inspektorat Jenderal Kementan Riduan Siahaan, Dirut PT Pertani Wahyu, dan Sekretaris Ditjen Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf.

IMG_20170519_093651

Terkait peraturan itu, ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Ditjen Hortikultura dengan PT Pertani soal ketersediaan benih bawang putih dalam negeri.

Dari MoU ini diharapkan PT Pertani selaku BUMN menampung hasil panen. Keterlibatkan PT Pertani agar bisa berperan lebih jelas sehingga nanti ketersediaan benih bawang putih akan lebih terjamin.

Namun, kata Spudnik, kewajiban importir menanam bawang putih itu, Ditjen Hortikultura tidak mau terlibat langsung. Pihaknya hanya meminta melakukan. Jadi yang terlibat antara importir dengan kelompok tani saja.

“Kami tidak mau ikut – ikutan dan terlibat di situ. Yang kami perlukan adalah surat keterangan bahwa benar perusahaan importir sudah menanam seluas sekian dan ditandatangani oleh kepala dinas pertanian setempat serta petugas lapangan,” kata Spudnik.

Untuk memastikan apakah betul ada pekerjaan tersebut, pihaknya akan membentuk tim untuk melakukan pemantauan.

Adapun sanksi yang tertuang dalam permentan tersebut yakni, jika melanggar persyaratan tidak memasukkan produk hortikultura yang melebihi waktu enam bulan sejak panen untuk produk hortikultura segar dikenakan sanksi 3 tahun berturut–turut tidak diberikan RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura).

Kemudian pelanggaran terhadap komitmen menanam bawang putih di dalam negeri, diusulkan untuk dikurangi volume impor berikutnya dan tidak diberikan RIPH bawang putih selama dua tahun bila melakukan pelanggaran dua kali berturut-turut.

Selanjutnya, jika tidak melaporkan realisasi impor dikenakan sanksi tidak diberikan RIPH selama satu tahun dan menarik produk hortikultura dari peredaran. Dan jika tidak mengajukan SPI dikenakan sanski tidak diberikan RIPH untuk dua tahun.

IMG_20170520_220320

“Dengan terbitnya permentan tersebut, ada percepatan luas tambah tanam bawang putih. Pak menteri sendiri memimpikan Indonesia dalam dua tahun ke depan bisa swasembada bawang putih,” ungkapnya.

Dirut PT Pertani Wahyu, menambahkan, pihaknya berharap dukungan dari berbagai pihak supaya kerjasama antara PT Pertani dengan berbagai kelompok tani di Indonesia dapat terealisasi menanam bawang putih.

“Soal modal, kami punya modal untuk benih dan bibit Rp 1 triliun,” ujarnya.

Menurut Wahyu, penanaman bawang putih sebetulnya sudah ada di beberapa sentra di Indonesia, namun masih perlu lagi untuk diintensifkan untuk menjadikan benih, dan tingkatkan arealnya dengan kawalan Ditjen Hortikultura, Balitbang dan dinas pertanian setempat.

“Jadi kami PT Pertani diwajibkan menyediakan benih bawang putih,” tuturnya.

Salah satu bentuk dorongan PT Pertani biar petani mau nanam bawang putih, di antaranya melalui regulasi Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan mengharuskan menanam bawang putih. Namun, harus didukung oleh benih unggul yang berkualitas bagus.

‘Nah, kami punya kewajiban itu sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perbenihan, kita menyediakannya di daerah yang biasa menanam bawang putih,” paparnya.

Menurut Wahyu, ada enam sentra bawang putih di Indonesia, yaitu Lombok Timur, Karanganyer, Bandung, Solok, Temanggung, dan Bima.

“Jadi tahap pertama yang akan kita lakukan adalah sudah ada lahan sekitar 1365 hektar, dan kelompok taninya sudah ada, serta petaninya juga sudah siap,” ungkapnya. (tety)

Related posts

Menuju World University, Institut STIAMI Selenggarakan The 1st ICSTIAMI

Tety Polmasari

Oesman Sapta: Kita Harus Prioritaskan Ekonomi Dalam Negeri

Tety Polmasari

Penusuk Bakri Masih Buron

Tety Polmasari

Leave a Comment