Empat Pilar Kehidupan Berbangsa Atasi Separatisme

Jumat, 9 Jun 2017
Ahmadi Noor Supit (kanan).

BARITO KUALA (Pos Sore) — Saat ini banyak sekali kasus yang mengarah ke separatisme baik atas nama agama, suku serta berbagai kepentingan terjadi di tanah air.

Belum lagi serangkaian fanatisme buta keberagamaan yang senantiasa menghantui kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini menjadi pertanda retaknya rasa persaudaraan antar warga Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah berita hoax yang menjadi viral di media sosial.

“Karena itulah, di tengah carut marut kondisi saat ini, pemahaman dan pelaksanaan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara perlu ditingkatkan agar masyarakat paham akan nilai-nilai luhur bangsa yang akhirnya bisa menyelamatkan kehidupan bangsa dan negara,” tegas anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmadi Noor Supit.

Ia menegaskan hal itu saat Sosalisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, di Barito Kuala, Kalimantan Selatan, kemarin.

Adapun empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut terdiri dari Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika serta Negara Kesatuan Republik Indonesa (NKRI).

Supit mengingatkan bangsa Indonesia terdiri dari suku dan bahasa yang berbeda-beda. Dalam satu suku dan bahasa, ada perbedaan keyakinan dan agama. Dalam satu keyakinan dan agama, ada perbedaan paham dan aliran.

Membangun Indonesia bukan hal yang mudah. Keberagaman yang begitu banyak akan menjadi ancaman bila tidak bisa dikelola dengan baik. Sebaliknya, jika bisa memaknai keberagaman ini, akan menjadi anugerah yang sangat besar bagi bangsa Indonesia.

“Hal mendasar yang harus kita bangun dalam diri adalah keikhlasan menerima berbagai keberagaman yang ada di hadapan kita sebagai bangsa. Keikhlasan ini bakal tumbuh dalam diri, kalau kita bisa memahami dengan baik nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi jangkar terwujudnya persaudaraan kita sebagai bangsa yang besar,” tutur Supit.

Supit menambahkan, para pendiri bangsa Indonesia telah membuktikan keberhasilannya merekatkan persaudaraan sebangsa-senegara melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika, falsafah Pancasila, dan konstitusi UUD 1945.

Akar kebangsaan yang dimulai dari hadirnya Sarekat Islam 1905, Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Proklamasi Kemerdekaan 1945 adalah sejarah panjang perjuangan pendiri bangsa Indonesia dalam menegakkan kedaulatan Indonesia sebagai bangsa yang besar. (bambang tri)