Dialog dengan Media, Menpar: Pers Dukung Percepatan Pembangunan Pariwisata Indonesia

Rabu, 21 Jun 2017
Foto: istimewa

JAKARTA (Pos Sore) — Menteri Pariwisata Arief Yahya, kembali menegaskan kunci keberhasilan dalam mengembangkan kepariwisataan nasional terletak pada sinergisitas unsur Pentahelix (Pemerintah, Akademisi, Asosiasi, Komunitas, dan Media).

Menurutnya, peran media sangat strategis dalam penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Pers memberikan kontribusi dalam mendukung proses percepatan pembangunan di Indonesia, khususnya bidang pariwisata.

“Media memiliki peran strategis bagi Kemenpar, sebagai mitra pemerintah dalam rangka penyebarluasan informasi kepada masyarakat,” katanya saat dialog dengan Forum Wartawan Pariwisata (Forwarpar), yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama di Bakmi Naga, Gading Walk, Jakarta, Selasa (20/6).

Kemitraan ini, kata menpar, hendaknya dapat terjalin dengan baik. Dengan demikian, rencana dan proses pembangunan bisa tersosialisasikan secara baik dan objektif kepada masyarakat, tanpa harus meninggalkan fungsi kontrol kalangan pers sesuai etika dan Undang Undang Pers.

Menpar Arief Yahya pada kesempatan itu menjelaskan tiga program prioritas (Top 3 program) Kemenpar yakni digital tourism, homestay desa wisata, dan aksesibilitas. Tiga program ini dalam upaya mencapai target kunjungan 15 juta wisatawan mancanegara tahun ini dan 20 juta wisman pada 2019.

Dikatakan, saat ini kita berada di era digital. Aktivitas keseharian kita tidak lepas dari digital sehingga digital lifestyle telah mengubah perilaku para wisatawan (traveler) karena mempunyai keutamaan; mobile, personal, dan interaktif.

“Hasil kajian menunjukkan 70% traveler melakukan search dan share menggunakan media digital termasuk dalam me-search dan share informasi atau berita pariwisata terbaru,” kata Menpar Arief Yahya.

Sementara itu, dalam mengembangkan konektivitas udara, sedari awal dirinya menjabat Menpar, secara konsisten melakukan kerjasama dan peningkatan seat capacity dengan sejumlah maskapai penerbangan.

Untuk itu, telah dilakukan safari pertemuan dengan pimpinan maskapai penerbangan nasional untuk membicarakan keberlanjutan kerjasama yang telah disepakati.

“Potensi pariwisata kita sangat luar biasa. Tapi kita lemah di air connectivity. Kuncinya cuma satu, ada di de-regulasi. Kalau kinerja buruk, hampir bisa dipastikan masalahnya adalah regulasi,” tandasnya.

Ia menyadari, Indonesia adalah negara yang terlalu banyak punya regulasi. Karenanya, ia minta agar regulasi-regulasi ini dipermudah lagi agar industri penerbangan bergairah dan pariwisata bisa makin maju.

Untuk program homestay desa wisata akan dibangun 100.000 homestay pada 2019 yang tersebar di seluruh Indonesia. Minimal di 10 Bali Baru, atau 10 Destinasi Prioritas yang sudah diputuskan oleh Presiden Joko Widodo.

Yakni Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Borobudur Jawa Tengah, Bromo Jawa Timur, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara.

Pada 2017 ini ditargetkan dibangun 20 ribu, tahun 2018 ditambah 30 ribu lagi, dan tahun 2019 dibangun 50 ribu. Total 100 ribu.

“Homestay itu dikelola secara koorporasi, bukan cara koperasi. Homestay ini dijalankan dengan mesin baru, model bisnis baru, berbasis pada digital yang saya sebut digital sharing economy,” kata Arief Yahya.

Program homestay desa wisata yang dilaksanakan mulai tahun ini merupakan kontribusi Kemenpar terhadap pendukungan program satu juta rumah terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dibuat Kementerian PUPR. (tety)