Simposiun Nasional Kebudayaan 2017 Hasilkan Deklarasi Ikrar Kebangsaan

Sabtu, 25 Nov 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Wakil Kepala Komando Staf Angkatan Darat (Wakasad) Mayor Jenderal TNI Tatang Sulaiman, menegaskan, hendaknya pembangunan Indonesia tidak hanya terpusat pada pembangunan ekonomi, tapi juga diiringi dengan pembangunan kebudayaan.

Menurutnya, selama ini strategi pembangunan terpusat pada ekonomi, sementara itu pembangunan kebudayaan terabaikan. Karenanya, pembangunan karakter bangsa menjadi tanggung jawab semua pihak.

“Mudah-mudahan dengan simposium ini bisa memberikan masukan untuk pemerintah,” ucap Wakasad dalam penutupan Simposium Nasional Kebudayaan 2017 yang diadakan PPAD, FKPPI, dan YSNB, di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (21/11).

Ia menegaskan, tanggung jawab membangun karakter bangsa tidak bisa dibebankan pada satu institusi saja. Semua komponen bangsa harus bersinergi melalui semangat gotong royong, optimisme dan nasionalisme tinggi.

Karenanya, ia menyambut positif terselenggaranya Simposium Nasional Kebudayaan 2017 ini. Simposium ini bisa menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan pembangunan karakter bangsa. Simposium ini, menurutnya, wujud kepedulian terhadap bangsa dan negara guna mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yang lebih baik.

“Saya yakin dan percaya gagasan-gagasan yang disampaikan dalam Simposium Nasional Kebudayaan 2017 ini memberikan kontribusi dan mendukung kinerja TNI AD yang senantiasa memegang semboyan bahwa ‘Suara Purnawirawan Adalah Suara TNI AD dan Suara TNI AD Adalah Suara Purnawirawan’,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah peserta simposium.

Sementara itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X saat berbicara di Simposium Nasional Kebudayaan ‘Pembangunan Karakter Bangsa untuk Melestarikan dan Menyejahterakan NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945’, mengatakan, upaya untuk membangun karakter bangsa harus dilakukan dengan memasukkan kearifan lokal. Menurutnya, kearifan lokal dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. 

“Kearifan lokal itu bisa jadi jembatan atau mediasi untuk memecahkan permasalahan pusat dengan daerah serta jadi nilai-nilai di tingkat nasional. Artinya, kearifan lokal itu menjadi potensi untuk mengembangkan persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya. 

Menurut Sultan, strategi membangun budaya harus memperhatikan potensi lokal. Kearifan lokal harus diperhatikan. Itulah yang dinamakan dengan strategi kontekstual, sehingga dalam membangun tiap daerah harus dengan pendekatan strategi khusus dan berbeda. “Pendekatan yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya dan waktunya,” tegasnya.

Profesor Dr I Gede Raka mengatakan Indonesia harus bisa merumuskan sistem pendidikan yang paling tepat di sekolah, yakni bagaimana menciptakan manusia yang memiliki kualitas dan berkarakter. Misalnya pendidikan yang mengutamakan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan mengajarkan kemandirian. 

“Nilai-nilai itu sudah harus ditanamkan sejak dini, yakni di pendidikan anak usia dini (PAUD),” katanya. Selain itu, perlu juga dipikirkan pendidikan anak zaman sekarang atau dikenal dengan sebutan kids jaman now, yakni generasi milenial. 

Prof Sri Adiningsih saat mem bacakan makalahnya ber judul ‘Strategi Pembangunan Karakter dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Bangsa’, mengungkapkan dayasaing Indonesia sudah meningkat. Pada 2016 dayasaing Indonesia berada di posisi 91 dunia, kini meningkat jadi posisi 72. 

“Jokowi berharap pada 2018 sudah bisa menempati posisi 40,” katanya. Selain itu, kata Sri Adiningsih, Indonesia juga menjadi negara layak investasi. Strategi Jokowi salah satunya adalah meningkatkan daya saing, yakni etos kerja, infrastruktur, dan efisiensi serta kompetensi. “Inilah kekurangan kita dan ini harus diupayakan. Untuk itu, perlu kerja ekstra,” ujarnya. 

Simposium Nasional Kebudayaan 2017 sendiri sebelumnya dibuka Presiden Joko Widodo dan dihadiri oleh beberapa menteri dari Kabinet Kerja, pada Senin (20/11).

Pada penutupan simposium, juga dibacakan Deklarasi Ikrar Kebangsaan yang diikuti para peserta. Berikut isi Ikrar tersebut:

Kami, Para Peserta Simposium Nasional Kebudayaan yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 20-21 November 2017 atas prakarsa PPAD, FKPPI, dan YSNB: peduli terhadap kelangsungan hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menyadari pentingnya mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat lndonesia.

Kami, sepakat untuk menjaga kelangsungan hidup bangsa dan menyejahterakan rakyat diperlukan tiga hal mendasar yaitu : konstitusi yang benar, warga negara yang baik, sistem dan perangkat penyelenggara negara yang bark dan berkualitas.

Kami, mendukung terbentuknya dan berfungsinya Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa yang kuat, tangguh, terpadu dan berkelanjutan untuk menyejahterakan dan melestarikan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kami, sepenuhnya menyadari bahwa meskipun etika dalam kehidupan antar bangsa harus tetap dijunjung tinggi, hukum alam tua ‘Kelestarian Hanya Untuk Yang Kuat’ tetaplah berlaku. Untuk itu kami mengambil semboyan ‘Berubah atau Punah’.

Dengan ini kami ber-IKRAR:
Satu, melaksanakan konstitusi yang benar dan membudayakan kehidupan berkonstitusi, bertekad menata kembali semua peraturan perundangan yang bertentangan dengan Pancasila dan Roh pembukaan UUD 1945. Serta meneguhkan kembali kesetiaan, mempertahankan dan mengamalkan Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara.

Dua, membangun karakter bangsa dan mewujudkan warga negara yang Berketuhanan Yang Maha Esa, jujur, cerdas, disiplin, bertanggung jawab, beretos kerja, gotong royong, toleran, mandiri, berbudaya unggul, berkepribadian, dan cinta tanah air Indonesia.

Tiga, mewujudkan sistem politik demokrasi Pancasila dan sistem ekonomi nasional yang berpihak pada rakyat dan kepentingan nasional dengan sistem perangkat penyelenggara negara dan pemerintahan yang jujur, kuat, baik, bersih, berkualitas dan bertanggung jawab. (tety)