Beratnya Beban Kerja Jurnalis Masa Kini

Kamis, 7 Des 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Profesi jurnalis media massa di Tanah Air kian hari kian bertambah berat beban kerja dan fungsinya. Fakta membuktikan kinerja jurnalis tidak lagi sekedar menjalankan tugas reportase atau penyebaran informasi tapi juga menghadapi eksploitasi perusahaan media, pemilik modal serta tuntutan hidup pribadinya.

“Jurnalis masa kini telah memasuki era komodifikasi yaitu disamping tuntutan profesionalisme juga mengemban misi komersial, bahkan eksploitasi kerjanya,” jelas praktisi komunikasi dan media, Metha Madonna S.Sos, M.I.Kom, di acara Konferensi Nasional Komunikasi ke – 4 dan Kongres Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) ke – 7 di Jakarta, Kamis (7/12).

Pesan komersil perusahaan yang dimaksud antara lain merangkul pemasang iklan, menjadi penghubung atau minimal membuka jalan bagi divisi marketing. Ini berarti kerja tambahan tersebut sebagai wujud komodifikasi oleh perusahaan media guna membantu finansial perusahaan, dan lambat lain menjadi sesuatu yang dimaklumi di masa kini.

Namun fenomena yang menggejala di industri media nasional belakangan adalah munculnya sistem reportase terintegrasi, khususnya pada media televisi. Di sejumlah stasiun TV swasta maupun TV kabel yang beraviliasi dalam satu grup media, cenderung menerapkan sistem yang berkesan mengeksploitasi jurnalis.

“Sistem reportase integrasi sesungguhnya bagi seorang jurnalis adalah bentuk eksplotasi dari pemilik modal terhadap kinerja pers walaupun diganjar gaji tinggi,” jelas mantan wartawati yang kini menjadi Dosen Fikom Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ).

Kerja jurnalis televisi untuk satu grup media pastinya di atas jam kerja normal. Tekanannya terlihat ketika harus siap mereportase untuk ke beberapa stasiun TV yang berbeda. Belum lagi permintaan produser yang berbeda untuk setiap mata acara dengan topik yang berbeda meskipun sumbernya sama.

“Bukan cuma untuk beberapa stasiun TV berbeda, tapi juga untuk banyak mata acara termasuk untuk stasiun radio serta online, dan itu bukan eksploitasi namanya,” jelasnya.

Dalam call papernya bertajuk ‘Fenomena Exploitasi Reporter Berita TV Terintegrasi di Indonesia (Komodifikasi Pekerja Pers di MM Media)’ yang disusun bersama Amalia Permata Wijaya, digambarkan tidak sejalannya tuntutan profesionalisme dengan beban kerja yang ditanggung jurnalis. (tety)