Dengan Sunat, 70 Persen Kurangi Risiko Tertular Penyakit Berbahaya

Kamis, 7 Des 2017
istimewa


JAKARTA  (Pos Sore) —
Dokter spesialis urologi dan konsultan urologi anak RS Siloam Asri Dr dr Irfan Wahyudi SpU(K), mengatakan, sunat atau dalam istilah medisnya sirkumsisi bisa mengurangi potensi seseorang terkena virus HIV/AIDS.

“Pada pria yang disunat, risiko tertular penyakit berbahaya ini bisa berkurang hingga 70%. Sunat atau sirkumsisi menurunkan risiko terjadinya penyakit yang ditularkan secara seksual,” katanya pada acara Media Gathering dengan topik ‘Sunat yang Aman’, di Jakarta, Kamis (7/12).

Irfan mengatakan, sirkumsisi terkait dengan higienis. Karenanya, sangat efektif untuk mencegah berkumpulnya virus dan bakteri penyakit yang biasa terselip di kulit penis, termasuk virus HIV/AIDS.

Katanya, kulit penis yang tidak disunat berpotensi menyimpan dan menjadi tempat berkumpulnya virus, kuman dan bakteri penyakit karena posisinya di bagian dalam kulit penis dan terlipat. 

“Kalau kulit penis disunat dengan cara dibuang kulitnya maka berarti virus tidak bisa masuk dan bersarang di bagian kemaluan seorang pria,” jelas Irfan.

Ia menambahkan, anak yang tidak disunat mempunyai risiko infeksi saluran kemih (ISK) 3-10 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang disunat pada tahun pertama kehidupan.

Selain itu, risiko kanker penis meningkat pada pria yang tidak disunat karena higienis penisnya buruk. Kejadian infeksi kulit dan glans penis (balanopostitis) lebih tinggi terjadi pada pria yang tidak disirkumsisi, sekitar 3-10%.

Mengenai usia paling pas bagi anak untuk disunat, Irfan mengatakan, tidak ada batasan usia bagi seseorang untuk disirkumsisi. Yang penting, kondisi penis orang yang akan disirkumsisi tersebut bentuknya dalam kondisi normal.

“Di Amerika Serikat sirkumsisi dilakukan sejak bayi lahir. Di Indonesia biasanya juga terkait dengan tradisi dan agama. Umumnya seorang anak disunat bila sudah berusia sekolah TK atau SD,” ujar Irfan. (tety)