Ellen May Luncurkan Buku ‘Nabung Saham Sekarang’

Senin, 11 Des 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Praktisi saham Ellen May kembali meluncurkan buku karyanya. Kali ini berjudul ‘Nabung Saham Sekarang’. Lewat buku ini, ia ingin mengedukasi masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal.

Perempuan cantik ini amat gundah karena minat masyarakat berinvestasi di pasar modal masih begitu rendah. Padahal, investasi jenis ini amat mudah dipelajari oleh semua kalangan.

Ellen yang sukses dalam bisnis saham ingin berbagi cara bagaiman meningkatkan kualitas hidup secara finansial melalui investasi di pasar saham. Dan, buku ini bisa menjadi buku panduan.

“Buku ini merupakan buku panduan untuk orang awam, juga buat siapapun yang ingin berinvestasi di saham dan mendapatkan keuntungan jangka panjang,” tutur Ellen May saat peluncuran bukunya, di Jakarta, Kamis (7/12), yang juga dilakukan serentak di Solo, Surabaya dan Medan.

Menurutnya, saat ini masih banyak orang membutuhkan bimbingan dalam trading dan investasi saham. Karenanya, Ellen May ingin mendedikasikan hidupnya untuk berbagi pengetahuan agar masyarakat Indonesia bisa menjadi lebih sejahtera melalui pasar modal.

Dalam buku ‘Nabung Saham Sekarang’ juga mengupas tuntas tentang strategi Dollar Cost Averaging/Nabung Saham, keuntungan, risiko, jumlah nominal untuk investasi, pilihan saham lengkap dengan hasil analisis.

“Kami juga mengulas tentang Reksadana, kelebihan serta kekurangannya serta berbagai strategi investasi saham lainnya, yang bisa memberi imbal hasil lebih banyak dan lebih cepat,” tambahnya.

Dengan membaca buku ini, pembaca akan menemukan langkah-langkah praktis memulai menabung saham, menentukan modal awal untuk investasi, bagaimana memilih saham, serta kapan waktunya beli dan jual.

Tak hanya itu. Bagaimana memilih sekuritas yang cocok, bagaimana mengetahui kinerja investasi, bagaimana caranya meminimalisir risiko serta hal-hal praktis lainnya yang dibutuhkan oleh investor pemula, dikupas tuntas di dalam buku tersebut.

Menurut penulis ‘Smart Traders Not Gamblers’, ini trading saham merupakan investasi yang sekaligus dapat meningkatkan kualitas hidup secara finansial. Trading saham tidak membutuhkan modal besar namun dapat menghasilkan keuntungan yang berlipat bila investor aktif melakukan proses jual beli saham.

Trading saham juga dapat menjadi pilihan yang tepat bagi generasi milenial yang ingin mendapatkan kebebasan financial sejak dini.

“Trading saham akan menjadi aktifitas yang menyenangkan dan sekaligus menguntungkan bila kita mempelajari tekniknya serta tidak terburu-buru ingin mendapatkan hasil secara instan. Pelajari tekniknya, sabar menikmati prosesnya dan kemudian kita dapat memetik hasilnya,” tandas pendiri Ellen May Institute, itu.

Sejauh ini, Ellen Mau sudah mengedukasi lebih dari 10 ribu trader dan investor di Indonesia. Ia juga sudah mencetak banyak banyak alumni Ellen May Institute yang meraih sukses secara finansial.

Ellen May yang juga sukses dengan buku karyanya berjudul ‘Smart Trader Rich Investor’, berpendapat, sebagai kalangan dalam rentang usia produktif, generasi milenial cenderung semangat mempelajari sesuatu. Generasi milenial juga identik dengan teknologi dan cukup mudah mengakses informasi.

“Ini akan menjadi nilai tambah bagi kalangan ini bila berani dan aktif melakukan trading saham,” tuturnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) jumlah investor saham di Indonesia kurang dari 1% jumlah total penduduk Indonesia. Angka ini kalah jauh disbanding jumlah investor saham Malaysia yang mencapai 12% dan Singapura sebanyak 30% dari total jumlah penduduk.

Rendahnya minat masyarakat Indonesia berinvestasi di pasar modal disebabkan kekhawatiran bahwa investasi ini tidak menguntungkan dan cenderung beresiko. Jika salah strategi, dapat menimbulkan kerugian.

Selain itu, berinvestasi di pasar modal dianggap membutuhkan modal yang besar. Hal ini yang mengakibatkan sebagian minat masyarakat kurang terhadap investasi di bidang saham.

Sebagai trader wanita sukses Indonesia, ia ingin membuktikan bahwa dunia trading bukanlah milik laki-laki saja. Wanita kelahiran Surakarta, Mei 1983 ini mulai menggeluti dunia trading saat krisis 2008. (tety)