Anak Kecanduan Gadget, Pengaruhi Kesehatan di Masa Depan

Selasa, 19 Des 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Lenny Nurhayanti Rosalin, mengungkapkan, kasus gizi buruk masih menjadi PR besar pemerintah Indonesia.

Stunting atau gizi buruk identik dengan daerah-daerah di pedalaman. Nyatanya, banyak kasus yang terjadi di kota-kota besar, bahkan di Ibukota Jakarta. Miris bukan?

“Ada 87 juta anak Indonesia yang harus dilindungi. Bukan hanya dalam kasus kekerasan pada anak, tapi juga melindungi mereka dari penyakit-penyakit terselubung dan berbahaya,” tegasnya.

Lenny menegaskan hal itu dalam Fun Group Discussion bertajuk ‘Kampanye Hari Gizi 2018: Cukupi Kebutuhan Gizi Keluarga, Jangan Salah Pilih Susu, Bunda Indonesia Bisa!, di Jakarta, Kamis (14/12).

Ia juga mengungkapkan, kini gadget menjadi perhatian besar KPPPA dalam isu pendidikan orang tua dan anak. Gadget dinilai memengaruhi aktivitas anak, dan berpengaruh pada tumbuh kembang mereka, hingga berakibat pada kesehatan di masa depan.

Menurutnya, kalau anak sudah pegang gadget, mereka jadi lupa dunia mereka. Benar kata psikolog, gadget bisa membuat mereka diam saat rewel. Tapi, itu tidak baik untuk kesehatan psikis dan tubuh mereka. Anak jadi jarang beraktivitas,

“Ditambah lagi asupan nutrisinya kurang diperhatikan. Ditambah isu susu kental manis yang masih diberikan ke anak-anak itu, bisa jadi anak-anak memiliki usia yang lebih pendek di masa depan, obesitas yang merupakan kurang gizi terselubung, mengerikan sekali,” ungkap Lenny.

Dalam kesempatan itu, hadir pula dr. Reisa Broto Asmoro. Dokter sekaligus presenter ini mengungkapkan adanya kasus-kasus dengan pola hidup yang salah dan diterapkan dalam membesarkan buah hati.

Ia bercerita, menemukan ada banyak keluarga dengan orang tua yang kegemukan, namun anak balita mengalami kurang gizi akut. Penyebabnya tak lain karena ketidaktahuan orang tua dalam memberikan asupan yang seimbang.

“Misalnya mereka masih percaya bahwa air tajin bisa menggantikan ASI atau susu. Hal tersebut jelas sama sekali tidaklah benar,” tegas perempuan cantik ini.

Reisa juga membeberkan, ada banyak orang tua yang malu untuk memeriksakan diri dan anak mereka ke puskesmas hanya karena anak mereka kurang gizi. Seharusnya, mereka segera memeriksakan tetapi lebih besar malu daripada mementingkan keselamatan anaknya.

“Padahal program pemerintah memberikan layanan gratis, tapi tidak digunakan dengan baik dan benar, hal itu sangat menyedihkan,” tuturnya. (tety)