Nilai Budaya Batik Merosot Akibat Banyak Batik Tiruan

Jumat, 22 Des 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua APPBI (Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia) Komarudin Kudiya, mengatakan, saat ini telah terjadi kemerosotan nilai budaya batik akibat membanjirnya batik tiruan seperti batik printing, cap di pasar.

“Meski sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya, namun masih banyak PR pelik yang harus dikawal dan diselesaikan untuk menyelamatkan batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia,” tandasnya, di sela peluncuran Koperasi APPBI, di Jakarta, kemarin.

Dalam hal budaya misalnya, sudah terlalu jauh pergeseran nilai batik bahkan sudah tecabut dari akar budaya, karena faktor ekonomi dan eksploitasi semata.

“Label batik tulis, batik halus oleh industri merupakan pembodohan publik. Kami harap pemerintah bisa menertibkan masalah ini dan tegakkan law enforcement,” tegasnya.

Ekploitasi oleh industri itu antara lain berimbas pada penurunan penjualan batik orisinil. “Kami sekarang juga kesulitan mendapatkan bahan baku dan bahan produksi seperti kain sutra tenun maupun benangnya,” ungkap Komarudin yang juga pemilik batik Komar itu.

Di sektor pendidikan juga tak ada upaya meluruskan kesalahan persepsi soal batik ini. “Tak ada kurikulum yang lengkap dan komprehensif menyangkut batik,” tambahnya.

Pemakaian batik seragam sekolah juga menambah salah kaprah, karena produk itu sebenarnya bukan batik. “Intinya perlu koordinasi antara semua baik itu pemerintah, dunia pendidikan, pemerhati, yayasan, perajin, pengusaha batik, maupun industri,” tutupnya. (tety)