Agar Siswa Nyaman, SMPN 2 Magelang Terapkan Program Sekolah Ramah Anak

Senin, 1 Jan 2018

MAGELANG (Pos Sore) — Media rombongan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) berkesempatan berkunjung ke SMP Negeri 2 Magelang, Jawa Tengah. SMP ini sudah mengembangkan diri sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA).

Didampingi Ketua Tim Nasional Kota Layak Anak Choirul Muna, yang juga anggota DPR Komisi VIII dari Fraksi Nasdem, dan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP4KB) Wulandari Wahyuningsih, rombongan melihat lebih dekat penerapan sekolah ramah anak.

Program Sekolah Ramah Anak — yang menjadi bagian dari Kota Layak Anak, sebagaimana dijelaskan Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPPA Lenny N Rosalin, bertujuan mengantisipasi aksi kekerasan anak di dunia pendidikan. 

Dalam proses belajar mengajar, guru harus menghindari hukuman secara fisik pada anak-anak yang melakukan kesalahan dan lebih mengedepankan upaya dan pendekatan yang lebih komunikatif sehingga membuat anak merasa nyaman.

“Jangan sampai di rumah disayang-sayang, di sekolah dibentak-bentak guru sehingga anak trauma tidak mau sekolah. Intinya pihak sekolah memberikan hak anak secara penuh. Terpenting, selama proses kegiatan belajar mengajar tidak boleh ada kekerasan fisik dan psikis,” kata Lenny.

Lenny mengatakan, tak mudah membangun sekolah ramah anak. Ini mencakup SDM guru, proses belajar mengajar yang menyenangkan, fasilitas sekolah, infrastruktur, kantin, bahkan taman sekolah dan alat bermain untuk anak-anak sekolah pun harus aman.

“Kegiatan yang dilakukan di dalam Sekolah Ramah Anak tentunya dapat menunjang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat,” ujarnya. Program SRA ini juga bertujuan mengantisipasi aksi kekerasan anak di dunia pendidikan. Situasi yang tidak ramah anak bisa membentuk karakter anak, tambahnya.

Kepala SMPN 2 Magelang Budi Wargana, S.Pd., M.Pd, menjelaskan, di sekolah yang dipimpinnya selama proses belajar mengajar, guru melibatkan partisipasi siswa sehingga guru tidak hanya memberi ceramah saat mengajar.

Pihak sekolah juga memberikan perlindungan pada siswa, seperti dengan penjagaan satpam dan polisi di lingkungan hingga depan sekolah untuk menyeberangkan anak agar anak merasa aman dan nyaman.

“Di dalam kelas, kami terapkan agar anak bisa bersikap ramah dengan sesama teman dan guru, guru juga ramah pada anak didiknya dan sesama guru. Jadi anak jangan sampai bertengkar dengan temannya di kelas maupun dengan sekolah lain,” paparnya.

Di sekolah, katanya, menerapkan 3S (senyum, salam, dan sapa) untuk selalu disertakan dalam aktivitas di sekolah.  Sebelum masuk sekolah atau kelas, guru, murid, karyawan harus selalu saling senyum, sapa dan salam. “Kita sangat menghargai hak-hak anak. Dan terbukti konsep ini dapat mengurangi angka kenakalan remaja,” katanya

Selain itu, para orang tua dan para murid juga memiliki nomor kontak setiap guru dan wali kelas untuk memudahkan komunikasi atau konsultasi terkait perkembangan anak. Di sekolah ini, setiap Jumat di saat siswa menjalankan shalat Jumat, para siswi mengikuti ‘kelas kewanitaan’. Materi yang diberikan seputar kesehatan dan kesehatan reproduksi perempuan. Didedikasikan pula untuk tidak menikah di usia sekolah.

Kota Magelang sendiri menjadi yang pertama sebagai model sekolah ramah anak di provinsi Jawa Tengah. Harapannya sekolah-sekolah lain akan terkena imbas dari sekolah ramah anak sehingga ingin mengembangkannya menjadi sekolah ramah anak. (tety)