Posyandu Shinta Sari Magelang Ajari Anak Menabung dan Memilah Sampah Sejak Dini

Sabtu, 6 Jan 2018

MAGELANG (Pos Sore) — Posyandu Shinta Sari Kelurahan Wates Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah, termasuk salah satu posyandu ramah anak. Apa yang membuat posyandu ini dinyatakan sebagai posyandu ramah anak?

Media rombongan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pun berkesempatan berkunjung ke sini, pada Jumat (29/12). Didampingi Ketua Tim Nasional Kota Layak Anak Choirul Muna, yang juga anggota DPR Komisi VIII dari Fraksi Nasdem, bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP4KB) Kota Magelang Wulandari Wahyuningsih.

Sesampai di sana, rombongan disambut sekelompok anak kecil bernyanyi penuh ceria. Para kader posyandu juga tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang memberikan edukasi gizi, ada yang menimbang bayi dan balita, dan ada yang memberikan makanan tambahan bergizi. Posyandu ini juga dilengkapi dengan ruang menyusui dan ruang periksa kehamilan.

Kegiatan yang dilakukan di posyandu yang dibuka minggu ketiga tiap bulan, ini tak hanya menimbang dan mengukur berat badan anak seperti yang umumnya terlihat. Di sini anak-anak juga diajarkan menabung sejak kecil yang dikemas dalam program ‘Balitung’ atau Balita Belajar Menabung. Uang yang ditabung (berapa pun jumlahnya) disimpan dalam celengan yang diberi sesuai nama anak. Uang tabungan ini dapat diambil dalam waktu lima tahun mendatang.

Anak-anak juga diajarkan bagaimana memilah sampah yang bisa didaur ulang. Mereka membawa sampah daur ulang ke posyandu, entah itu botol bekas, kardus, koran, atau lainnya yang bisa diolah kembali. Sampah-sampah ini disimpan dalam wadah ‘bank sampah’. Sebagai ‘uang lelah’, anak diberikan makanan tambahan berupa bubur kacang hijau atau makanan bergizi lainnya.

“Sampah-sampah ini kami jual ke Bank Sampah. Uang yang didapat dari hasil menjual sampah ini kami gunakan untuk kebutuhan makanan tambahan bagi bayi dan anak balita di posyandu ini,” jelas salah satu kader posyandu.

Dengan adanya ‘kewajiban’ membawa sampah daur ulang ini untuk mengajarkan anak memilah sampah sejak dini. Untuk menunjukkan sampah juga berguna dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan kesehatannya. Anak juga diajari bagaimana menjaga lingkungan.

Di teras samping posyandu digunakan untuk ‘belajar’ yang pembagian ‘kelasnya’ disesuaikan dengan usia anak. Jadi, setelah pemeriksaan di posyandu usai, ibu dan anak masuk ke kelas. Materinya seperti yang disampaikan di kelas-kelas PAUD. Tujuannya, untuk memberikan berbagai stimulasi bagaimana anak tumbuh dan berkembang sesuai umurnya.

Melihat semua aktifitas dan sarana di posyandu yang cukup luas ini, maka tak heran jika posyandu ini dilabeli sebagai posyandu ramah anak. Posyandu Ramah Anak sendiri merupakan pengembangan dari program Kota Layak Anak, program dari KPPPA.

Kota Magelang sendiri mendapat pengakuan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) sebagai Kota Layak Anak kategori Nindya pada 2016. Pengakuan dalam bentuk Anugerah KLA ini sudah keempat kalinya diterima Kota Magelang. Ke depan, kota yang dipimpin Ir. H. Sigit Widyonindito, M.T, ini menargetkan meraih penghargaan untuk kategori utama. (tety)