Pertama di Industri, Astragraphia Luncurkan Printer Enam Warna

Kamis, 25 Jan 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Latar belakang kebutuhan konsumen yang beragam membuat konsumen harus dapat menyesuaikan penggunaan teknik percetakannya. Tidak hanya mengandalkan percetakan offset konvensional yang dapat memproduksi pekerjaan high volume.

Kebanyakan bisnis sekarang memilih on demand printing, dengan waktu yang lebih singkat untuk menyelesaikan sejumlah katalog, manual, dan materi iklan. Meningkatkan nilai produk cetak sangat penting bagi perusahaan percetakan untuk mengembangkan bisnisnya. Terutama dengan penggunaan printer digital.

Karenanya, Astragraphia luncurkan printer terbarunya, Iridesse Production Press. Ini adalah printer high-end untuk kalangan profesional. Hebatnya lagi, ini adalah printer enam warna pertama untuk di industri percetakan.

Printer produksi terbaru dengan print engine enam warna ini mampu mencetak warna-warna spesial termasuk metalik dengan metode single pass, menggunakan tambahan hingga dua dry ink spesial warna emas, silver, bening, dan putih. Ini adalah printer enam warna pertama di industri.

Direktur PT Astra Graphia TBK Arifin Pranoto, mengatakan, printer terbaru ini dapat mencetak gambar memukau dengan proses cetak warna xerographic. Dry ink spesial ini dapat memperluas berbagai ekspresi, menghasilkan hasil akhir yang premium sehingga dapat menambah nilai pada aktivitas marketing.

“Printer yang baru diluncurkan ini memungkinkan lapisan dry ink CMYK untuk diproses di atas lapisan dry ink spesial. Produk baru ini mampu mencetak beberapa warna metalik secara langsung dalam satu proses cetak,” terangnya, di Jakarta, Kamis (25/1).

Pada peluncuran printer terbaru ini, Astragraphia menggandeng Komunitas Sastra Lintas Rupa. Komunitas yang berisi sekelompok insan muda kreatif yang menerjemahkan arsip-arsip karya sastra ke dalam media visual.

Astragraphia untuk kedua kalinya memberikan dukungan kepada komunitas ini untuk mencetak kartu pos dengan visualisasi dari karya sastra dari arsip tahun 1945. Penjualan ini nantinya dialokasikan untuk pengelolaan Gedung Arsip HB Jassin.

“Desain bukan hanya mementingkan keindahan, makna dari tiap desain yang dihasilkan juga perlu dipertimbangkan,” kata Garyanes Yulius.

Melalui kerjasama ini, Satra Lintas Rupa mengajak masyarakat untuk meningkatkan kembali kepedulian terhadap pengelolaan arsip dengan metode yang lebih modern. Khususnya yang terdapat di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang berlokasi di Kompleks Taman Ismail Marzuki.

Metode yang diterapkan ini diharapkan dapat lebih mudah diterima masyarakat luas karena menggunakan cara yang lebih ringan dan sederhana dalam mengelola informasi. Tema karya yang diangkat kali ini adalah ekspresi visual dari tahun 1945 yang pada umumnya menceritakan tentang perjuangan bangsa Indonesia menjelang kemerdekaan.

“Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ini biasanya hanya dikunjungi para peminat sastra yang sedang membuat tulisan, misalnya skripsi, essay, atau penelitian lain. Latar belakang tersebut membuat karya dan kebudayaan sastra terlihat konvensional dan kurang menarik,” ujarnya. (tety)