Lahan Universitas Trisakti Dijadikan Akademi Sapi Oentoek Rakjat

Rabu, 7 Feb 2018

BOGOR (Pos Sore) — Rektor Universitas Trisakti Ali Ghufron Mufti, mengapresiasi kolaborasi Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) dan Universitas Trisakti, Jakarta, yang mendirikan Program Akademi Aksara Alexis Farm, di Kebun Nagrak Trisakti, Gunung Putri, Bogor, Rabu (7/2).

“Kami bangga dan berkomitmen untuk mengembangkan sapi untuk rakyat. Kita juga komitmen membangun SDM peternak rakyat. Atas nama Trisakti kami sambut baik kolaborasi ini,” ujarnya.

Ia mengakui, potensi sumberdaya alam Indonesia sangat besar, termasuk peternak. Jika bisa dikembangkan ternak sapi di dalam negeri, maka Indonesia tidak lagi tergantung pasokan daging/sapi dari Australia.

Lahan Universitas Trisakti seluas 123 ha ini dimanfaatkan untuk Kampus Aksara Alexis Farm . Selama ini, lahan tersebut belum optimal. Termasuk beberapa lokasi kandang sapi yang sudah berdiri. Namun ada lahan yang sudah dimanfaatkan untuk usaha budidaya pisang, buah naga dan rambutan.

Menurutnya, dengan adanya program Akasara (Akademi Sapi Oentoek Rakjat) Alexis Farm, bisa memberikan solusi yang baik untuk peternak rakyat.

Sementara itu Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Sugiono mengatakan, kunci agar Indonesia bisa mengalahkan Australia dalam peternakan sapi adalah efisien.

“Jika biaya produksi masih di atas Rp 15 ribu/kg, maka akan sulit peternakan sapi di dalam negeri untuk bisa bersaing,” terangnya.

Ia menambahkan, kunci lain usaha ternak sapi potong rakyat adalah peternak harus cinta sama sapi. Sediakan rumput dengan baik dan cegah penyakit. Kalau tidak sulit, peternak rakyat bisa berkembang.

Selama ini, katanya, peternak sapi potong hampir 98 persen dilakukan rakyat dengan kepemilikan 2-4 ekor sapi. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, pemerintah akan mengoptimalkan sumberdaya yang lokal.

“Perkembangan populasi sapi dari tahun ke tahun terus meningkat, namun peningkatan tersebut belum bisa mengimbangi permintaan kebutuhan konsumsi secara nasional,” katanya. 

Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menyebutkan pada 2016 produksi daging sapi sebesar 524 ribu ton naik 3,4 persen dibanding 2015. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia tahun 2016 mencapai 258 juta jiwa, jadi masih kekurangan. Untuk mengatasi hal ini pemerintah masih perlu impor 32 persen.

Sugiono menambahkan, untuk mengatasi hal tersebut peternak perlu diberi pelatihan cara budi daya dan manajemen peternakan yang baik.

Saat peresmian Kampus Aksara Alexis Farm juga dilakukan lelang pedet sebanyak lima ekor. Meski nanti sudah terjual, pedet tersebut akan dikembangkan di kampus tersebut sesuai perjanjian. (tety)