Maret 2018 Wilayah Indonesia Masih Periode Puncak Musim Hujan

Kamis, 8 Feb 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Kepala Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, Ph.D mengingatkan, saat ini wilayah Indonesia masih berada pada periode musim hujan.

Kondisi ini dipengaruhi dari angin baratan yang cukup kuat sejak Januari 2018 dan diprakirakan hingga Maret 2018 wilayah Indonesia masih berada pada periode puncak musim hujan.

Beberapa wilayah yang berpotensi terjadi hujan sedang-lebat dalam seminggu ke depan, yaitu di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Papua, dan Papua Barat.

Demikian pula halnya dengan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), menurut Kepala BMKG itu, saat ini memasuki puncak musim hujan, yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat hingga sepekan ke depan.

BMKG memprakirakan, potensi hujan lebat dan angin kencang lebih dari 20 knot berpotensi terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Riau, Kepulauan Riau, Laut Jawa, Laut Banda, Samudra Hindia Selatan Jawa Tengah, NTB, dan Laut Arafuru.

“Potensi angin kencang ini berdampak pada peningkatan gelombang laut dengan tinggi gelombang mencapai 2.5-6 meter di Perairan Utara Kepulauan Anambas, Natuna, Perairan Utara Singkawang, Laut Cina Selatan, dan Laut Natuna Utara,” jelas Dwikorita dalam video konferensi dari Medan, Sumatera Utara, kemarin.

Untuk itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat mewaspadai potensi terjadinya genangan, banjir, dan tanah longsor.

“Waspada hujan lebat disertai angin yang dapat menyebabkan pohon tumbang serta tidak berlindung di bawah pohon ketika terjadi hujan dan petir, “ imbau Dwikorita.

Terkait dengan terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti kejadian bencana tanah longsor di Kawasan Puncak, Bogor, dan banjir di beberapa wilayah Jakarta, akibat luapan bendungan Katulampa, dan memakan korban jiwa, menurut Dwikorita, diakibatkan salah satunya hujan ekstrem yang terjadi di wilayah Puncak Bogor dalam dua hari terakhir berturut-turut. Curah hujan yang tercatat sebesar 152 mm/hari dan 164 mm/hari. (tety)