Bandar Narkoba WN Malaysia Tewas Ditembak

Senin, 12 Feb 2018

JAKARTA (Pos Sore) – Kasus narkoba jaringan Malaysia diungkap tim Satgassus Polri dan Polda Metro Jaya. Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengapresiasi pengungkapan 239 kg shabu dan 30.000 butir ecstasy di Komplek Pergudangan Harapan Dadap Jaya No 36 Gudang E 12, Dadap, Kosambi, Kota Tangerang.

“Pengungkapan ini berawal 4 Februari, pihaknya mendapat informasi ada penyelundupan narkoba dilakukan warga negara malaysia dibantu warga negara Indonesia,” ujar Kapolri di Gedung Promoter, Mapolda Metro Jaya, Senin (12/2).

Informasinya sabu disimpan di pergudangan Harapan Dadap Jaya. Setelah diselidiki, tim menggerebek gudang itu, Kamis (8/2) sekitar pk 21:00 WIB. Beberapa barang bukti pun berhasil ditemukan.

“Kami langsung menggeledah gudang tersebut. Kami amankan satu tersangka, Joni alias Marvin Tandiono,” ucap Tito. Barang bukti yang diamankan 228 bungkus plastik berisi 239.785 gram shabu dan enam bungkus plastik berisi tablet ecstasy sebanyak 30.000 butir. Semuanya disembunyikan dalam 12 mesin cuci.

Dalam pengembangan, pelaku lainnya, Andi alias Aket ditangkap di Jalan Perancis Dadap, Kosambi, Tangerang, p 21:30 WIB. “Pegakua Andi, mendapat perintah dari Indrawan alias Alun, napi di salah satu lapas di Jakarta. Membantu Joni menjaga gudang dan membongkar mesin cuci yang beri narkotika,” tegasnya.

Jalura peredaran terus dikembangkan dan menangkap Lim Toh Hing alias Onglay warga Malaysia. Onglay ditangkap Jumat (9/2) pk 00:20 WIB di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

“Saat tim membawa Onglay menunjukkan rekannya ke Dadap, berusaha merebut senjata petugas, Sabtu (10/2) pk 01:30 WIB. Petugas mengambil tindakan tegas, menembaknya. Dalam perjalanan ke rumah sakit, pelaku tewas,” tutur Tito.

Sebelumnya Onglay mengaku sudah enam kali menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Modusnya sama, yaitu menyembunyikan di dalam mesin cuci.

“Sampai saat ini kami masih melakukan pengejaran terhadap beberapa pelaku yang diduga terlibat dalam jaringan narkoba tersebut. Termasuk dengan berkoordinasi Polisi Diraja Malaysia (PDRM) terkait DPO (Daftar Pencarian Orang) di Malaysia,” tegasnya.

Seluruh pelaku dijerat Primer Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang R.I No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun. (marolop)