Raker BATAN 2018 Bahas Hilirisasi Iptek Nuklir

Rabu, 14 Mar 2018

BOGOR (Pos Sore) — Bagi sebagian masyarakat kata nuklir masih menjadi momok menakutkan. Namun di balik itu, nuklir mempunyai segudang manfaat yang dapat memberikan solusi di berbagai sektor kehidupan.

Pemanfaatan teknologi nuklir di sektor pertanian dan kesehatan terbilang sudah dapat diterima oleh masyarakat. Selain dua sektor tersebut, nuklir punya potensi banyak untuk dimanfaatkan.

Dalam Rencana Strategis (Renstra) 2015-2019 Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), pemanfaatan teknologi nuklir ditujukan untuk mewujudkan visi yakni unggul di tingkat regional dalam percepatan kesejahteraan menuju kemandirian bangsa.  Sementara itu, Renstra  BATAN 2020 – 2024, BATAN ingin mengadirkan nuklir untuk masyarakat Indonesia.

“Bertepatan dengan ulang tahun BATAN ke– 60, BATAN akan fokus pada hilirisasi iptek nuklir, bagaimana teknologi nuklir bisa ikut menyelesaikan masalah di tengah masyarakat,” ungkap Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto pada Rapat Kerja (Raker) BATAN 2018, di Sentul, Bogor, Rabu (13/3).

Hilirisasi yang dimaksud, salah satu contohnya dengan memanfaatkan Betatron. Yaitu salah satu alat di bidang uji tak merusak, yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan pembangunan infrastrukur yang belakangan kerap terjadi di Indonesia seperti pembangunan jalan layang, gedung bertingkat, dan sebagainya.

Alat yang dibeli dengan harga 3 miliar pada tahun lalu itu bisa mendeteksi adanya keretakan atau kerusakan pada material yang diuji tanpa perlu membongkar material tersebut.

Ia ingin pihaknya lebih pro aktif dalam menawarkan produk teknologi nuklir di berbagai pihak termasuk BUMN dan swasta. Namun upaya hilirisasi diakuinya tidak semulus yang diharapkan. Salah satu kendala memanfaatkan teknologi nuklir terletak pada proses perizinan.

Paranoid akan keselamatan menggunakan teknologi nuklir rupanya tidak hanya melanda masyarakat, namun juga pihak Badan Pengawas di seluruh dunia yang semakin memperketat proses perizinan pasca kecelakaan reaktor nuklir Fukushima Daiichi.

”Mestinya Betatron yang dibeli mahal itu bisa langsung dimanfaatkan masyarakat, entah dengan mekanisme penerimaan negara bukan pajak atau bahkan gratis. Tantangannya ada pada proses perizinan. Bisa jadi belum ada aturannya, jadi harus bikin dulu, kan lama lagi, keburu banyak yang retak bangunannya,” ucapnya.

Dengan total anggaran di tahun ini hanya hampir 860 miliar yang terbilang pagu kecil untuk setingkat Kementerian/Lembaga, BATAN juga ingin memperluas cakupan luasan wilayah aplikasi teknologi nuklir di bidang pertanian yang saat ini masih menjangkau 20 daerah baik provinsi maupun kabupaten.

“Dengan anggaran 75 juta rupiah per daerah tentu belum bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Kita punya ide bagaimana kalau kita menggunakan sistem demplot, artinya masyarakat bisa mengembangkan sendiri benih unggul yang kita berikan sehingga hasilnya bisa dinikmati di banyak daerah,” katanya.

Bidang lain yang juga menjadi perhatian masyarakat yakni pemanfaatan teknologi nuklir untuk magnet, baterai, pembuatan radiofarmaka, dan sebagainya. Negara Afrika dan Timur Tengah bahkan tertarik memafaatkan produk radioisotop dan radiofarmaka milik BATAN.

Untuk itu, BATAN menggandeng PT. Kimia Farma dan PT. Inuki agar produk tersebut dapat dipasarkan secara masif untuk memenuhi kebutuhan nasional dan luar negeri.

Kepala Biro Perencanaan, Ferly Hermana menambahkan, untuk menghilirkan produk nuklir memang perlu menggandeng pihak lainnya karena posisi BATAN sebagai penyedia teknologi memiliki kapasitas pengembangan nuklir untuk menghasilkan prototipe, paket teknologi dan karya tulis ilmiah.

“Alat kami punya, tapi skala lab. Di sinilah kita perlu menggandeng pihak swasta baik menyebarkannya secara masif sekaligus mengajak mereka terlibat misalnya dalam membangun fasilitas nuklir, seperti Iradiator Gamma. Karena di sini bukan hanya dibutuhkan tingkat kesiapan teknologi, ternyata juga dibutuhkan tingkat kesiapan manufaktur,” tambahnya.

Raker BATAN membahas midterm Renstra yang sedang berjalan dengan memfokuskan pada program yang harus diselesaikan hingga 2019, dengan mempertimbangkan SDM dan fasilitas teknologi nuklir yang tersedia.

Selain itu, Raker membahas Draft Renstra 2020 – 2024 dengan target menghadirkan nuklir di tengah masyarakat.  Terkait midterm Renstra yang saat ini berjalan, dengan anggaran yang ada, BATAN akan mengikuti program prioritas nasional yang menitikberatkan pada kesehatan, kemandirian pangan, pendidikan, dan energi.

“Karena kebijakan energi nasional, nuklir pilihan terakhir ya kita ikuti, kecuali jika memang Pemerintah mengubah itu jadi tidak pilihan terakhir ya tentu kita pun akan mengubah prioritas itu,” tukas Djarot. (tety)