Giwo Rubianto: ‘Ibu Indonesia’ Bukan Sekedar Urusan Konde

Selasa, 3 Apr 2018

JAKARTA (Pos Sore) — Puisi Sukmawati Soekarnoputri yang di dalamnya menyinggung tentang azan dan cadar menjadi kontroversi. Puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ itu menuai polemik.

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd memberikan pendapatnya tentang kontrovesi puisi yang dibawakan oleh Sukmawati Soekarnoputi.

“Di bumi pertiwi yang beragam ini, kita harus dapat menjaga dan menghargai keragaman, termasuk yang dapat menyinggung keyakinan beragama. Bicara perempuan, tidak hanya bicara sanggul,” katanya, Selasa (3/4).

Menurutnya, perempuan cantik, tidak hanya cantik penampilan, tapi juga cantik batin — hati, kecerdasan, wawasan, akhlak. Terlebih Kowani yang mendapat mandat sebagai ‘Ibu Bangsa’ sebagaimana hasil keputusan Kongres Perempuan ke II tahun 1935.

“Kewajiban perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa berarti berusaha membina pertumbuhan generasi penerus yang lebih sadar akan kebangsaannya. Sudah menjadi aturan di KUHP, bahwa kita semua dilarang untuk bicara yang menyinggung SARA, demi keutuhan bangsa Indonesia,” tuturnya.

Karenanya, ia amat prihatin karena isu SARA sepertinya tak pernah mati. Ada saja pihak yang menggunakan isu SARA sebagai ‘senjata’ untuk meraih tujuan. Entah itu tujuan politik atau ekonomi. Bak komoditas yang laris manis, isu SARA selalu saja diproduksi dan direproduksi meski rambu regulasi sudah banyak diterbitkan di Indonesia.

“Sebenarnya nama Ibu Indonesia adalah suatu hal yang mulia, yang pada tahun 1935, hasil keputusan kongres bahwa wanita Indonesia wajib menjadi ibu bangsa. Jadi bukan untuk urusan konde dan lain sebagainya,” tandasnya.

Ia menegaskan, tugas sebagai Ibu Bangsa adalah sangat berat, vital, urgen namun sangat mulia karena harus mempersiapkan satu generasi yang sehat jasmani dan rohani, jujur, rajin, berkarakter, cakap, pintar, dan berpengetahuan.

Selain itu, tahan uji, kreatif, inovatif, unggul dan berdaya saing, berwawasan luas dan memiliki wawasan kebangsaan yang militan tak mudah menyerah, kokoh tergoyahkan, dan membanggakan.

“Ibu Bangsa memegang teguh persatuan dan kesatuan. Oleh karenanya maka etika kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sangat penting,” tegasnya. (tety)