Stepi Anriani: Perempuan dalam Dunia Intelijen

Jumat, 6 Apr 2018

DUNIA INTELIJEN selama ini identik dengan peran kaum laki-laki. Di Indonesia, masih segelintir perempuan yang terjun ke dunia intelijen. Stepi Anriani, perempuan muda lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Padjajaran Bandung ini adalah salah satunya.

Stepi dikenal sebagai pengamat intelijen yang concern pada isu-isu strategis dalam rangka ketahanan nasional. Ketertarikannya di bidang intelijen dimulai sejak duduk di bangku kuliah terhadap konflik-konflik yang terjadi di Papua dan kenapa di daerah Papua selalu timbul gejolak antara masyarakat dan pemerintah. Bahkan, untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, sulung tiga bersaudara ini pergi ke daerah perbatasan Indonesia Papua Nugini yang rawan konflik.

Tugas akhirnya yang berjudul Politik Pertahanan Indonesia dalam Perspektif Pembangunan Politik (Studi pada Wilayah Perbatasan Kota Jayapura Papua-Papua Nugini) meraih predikat skripsi terbaik di bidang sosial politik.

Passionnya terhadap ketahanan nasional kemudian berlanjut dengan terjun ke dunia politik serta mempelajari isu-isu strategis di bidang intelijen. Periode 2011-2014, Stepi menjadi tenaga ahli anggota DPR RI Komisi VII dengan lingkup energi, riset dan teknologi serta lingkungan hidup.

Ia juga jadi dosen pengajar di Sekolah manajemen Analisa Intelijen (SMAI), Satinduk Bogor serta menjadi staf khusus Torry Djohar Banguntoro, Wakil Kepala BIN periode 2015-2016.

Di mata Stepi, intelijen bukanlah topik berat yang hanya bisa digeluti oleh kaum adam. Intelijen adalah hal menarik yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, termasuk perempuan.

Mempelajari intelijen dapat dilakukan dengan mencermati beragam kisah para tokoh, mengikuti peristiwa-peristiwa di daerah perbatasan, konflik serta terorisme. Bahkan, dinamika politik pun erat kaitannya dengan dunia intelijen.

Pada 3 April 2018, Stepi meluncurkan buku Intelijen dan Pilkada: Pendekatan Strategis Menghadapi Dinamika Pemilu. Buku ini adalah karya pertama Stepi yang diterbitkan oleh Gramedia Publishing. Dalam buku ini, Stepi mengenalkan intelijen sebagai tulang punggung keamanan nasional yang dapat dilihat dari banyak sudut pandang, yaitu sebagai informasi, pengetahuan, proses, kegiatan, organisasi, dan profesi yang penggunaannya dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kaitannya dengan Pilkada, money politic adalah hal yang lumrah. Namun melalui buku ini, Stepi berbicara sangat mungkin melepaskan kebiasaan money politic dari pemilihan umum dengan menerapkan strategi-strategi intelijen.

“Apabila timses partai atau paslon mau mempelajari strategi-strategi dalam dunia intelijen, maka kemampuan tersebut dapat diterapkan untuk memenangkan pemilu,” ungkap Stepi.

Selain menjadi pengajar, narasumber & pengamat bidang intelijen dan ketahanan nasional, Stepi aktif berorganisasi, menulis jurnal dan buku. Ia juga mencermati catatan pilkada serentak tahun 2015 maupun 2017.

Termasuk fenomena baru seperti kekuatan media sosial dan generasi Millennial yang erat kaitannya dengan kehidupan politik di Indonesia. “Medsos telah menjadi arena baru kampanye sekaligus wadah bagi propaganda,” ujar Stepi Anriani. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015