Pentingnya Pemeriksaan Platelet Function Test Bagi Pasien Jantung Koroner

Jumat, 20 Apr 2018

DEPOK (Pos Sore) – RS Jantung Diagram memperkenalkan layanan Platelet Function Test. Alat ini melakukan pemeriksaan cepat, sederhana dan akurat untuk mengukur respons individu terhadap obat pengencer darah, yang mengandung Aspirin dan P2Y12 (Clopidogrel /Ticlopidin /Ticagrelor/Prasugrel).

Menurut Interventional Cardiologist dari RS Jantung Diagram Jeffrey Wirianta, Platelet Function Test dapat dilakukan untuk pasien usia di atas 50 tahun, penderita hipertensi, diabetes, stroke dan pasien PCI Coronay Stent.

Dikatakan, pemeriksaan fungsi platelet ini sebaiknya dilakukan minimal 1 tahun sekali untuk memastikan hasil terapi yang optimal. Namun mengingat biayanya masih relatif mahal sekitar Rp1,5 juta, tidak semua pasien direkomendasikan melakukan pemeriksaan ini.

“Hanya untuk pasien yang benar-benar beresiko tinggi mengalami serangan jantung baru, beresiko tinggi ringnya tersumbat, dan beresiko tinggi terjadi pendarahan,” ujarnya dalam Media Gathering, di Rumah Maribaya Cinere, Depok, Kamis (19/4).

Mengapa pemeriksaan menggunakan alat ini perlu dilakukan? Dokter Jeffrey menjelaskan umumnya pasien jantung dan stroke akan diberikan obat pengencer darah (anti platelet) untuk mencegah pembekuan darah mendadak. Sebagian besar pasien yang sudah teridentifikasi cardio, pasti diberikan obat ini.

Obat-obat pengencer darah ini mengandung zat aktif Aspirin, Clopidogrel atau Ticlopidin yang umum digunakan dalam jangka waktu yang panjang, bahkan hingga seumur hidup. Aspirin berdasarkan berbagai studi terbukti efektif, dan harganya murah.

“Persoalannya, apakah dosis yang diberikan tepat atau tidak. Apakah pasien resistensi dengan obat ini atau tidak. Penggunaan obat dalam waktu panjang, maka sangat penting dilakukan pemeriksaan fungsi platelet (bagian dari trombosit) untuk mengetahui efek terapi dari obat pengencer darah yang dijalani pasien,” terangnya.

Jika efek terapi tidak cukup, maka terapi yang sudah dijalankan menjadi sia-sia. Demikian juga jika efek terapinya terlalu kuat bisa mengakibatkan perdarahan yang serius. Melalui pemeriksaan ini pemberian terapi akan menjadi lebih efektif dengan dosis yang tepat.

Dokter Spesialis Jantung dari RS Jantung Diagram Yudi Fadilia, menjelaskan, dalam aliran darah, ada platelet yang bergerak. Bila di dalam pembuluh darah tersebut ada luka kecil, maka bisa terjadi pembekuan darah.

Menurutnya, pasien perlu melakukan pemeriksaan fungsi platelet untuk mengetahui efek terapi dari obat pengencer darah yang dikonsumsinya. Berdasarkan data, terjadinya resistensi yang tinggi terhadap obat Clopidogrel dan Aspirin.

“Sebanyak 1 dari 3 pasien tidak mendapat efek terapi yang memadai dari obat yang telah diminum secara rutin dan teratur. Pasien yang resisten terhadap obat Clopidogrel memiliki risiko terjadinya kematian otot jantung dan kematian 5 kali lebih tinggi dibandingkan pasien yang respon terhadap obat tersebut,” ungkapnya.

Pasien yang resisten terhadap obat Aspirin memiliki risiko serangan jantung dan stroke tiga kali lebih tinggi dibandingkan pasien yang respon terhadap obat Aspirin. Karenanya, melalui pemeriksaan ini terapi obat dan kesesuaian dosis akan tepat.

Yudi menambahkan, bagi pasien yang terbukti mengalami resisten terhadap obat tersebut, dokter biasanya menggantikan dengan obat anti platelet golongan lain. Di Indonesia, saat ini ada 14 jenis merk obat anti platelet dan 3 generik. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015